Gaya hidup

Hepatitis C Bisa Menular Lewat Tato

Kompas.com - 28/04/2009, 03:35 WIB

Dulu tato identik dengan preman. Tetapi, di zaman kini, tato adalah sebuah bentuk ekspresi diri yang berseni, bergaya, dan sedang trend saat ini. Anda lihat di mal-mal, di kafe-kafe, gadis-gadis cantik pun bertato. Motif tatonya bisa kupu-kupu, bunga, kucing, bisa juga motif setan atau iblis. Kini tato dilihat sebagai seni. Elok DyahMesswati

Begitu pun piercing alias tindik. Anting tak lagi ”nangkring” di kuping semata, tetapi bisa di ujung hidung, lidah, pusar, dan bibir pun ditindik dan dipasang beraneka aksesori. Biar semakin gaya....

Namun, tanpa sadar, ada bahaya mengancam: sterilkah jarum yang digunakan untuk menato dan menindik? Itu yang harus diwaspadai kaum muda ataupun orang-orang yang berminat untuk menato dan menindik bagian tubuhnya.

Kedua aktivitas tersebut jika tidak menggunakan jarum yang steril bisa berujung pada tertularnya virus hepatitis C. Seperti juga HIV yang bisa ditularkan melalui penggunaan jarum yang tidak steril, jarum tato dan tindik yang tidak steril pun bisa berakibat sama: menularkan virus hepatitis C.

Menurut Dr Unggul Budihusodo SpPD-KGEH, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, infeksi virus hepatitis C (HCV) bisa saja mengenai kelompok risiko tinggi, antara lain, pengguna narkoba suntik. Hepatitis C juga bisa menular melalui penerima transfusi darah yang tidak diskrining; pengguna alat kesehatan, seperti jarum, pisau, dan gunting, yang tidak disterilkan; ditindik, ditato, atau disunat dengan alat yang tidak steril.

Juga berisiko tinggi pada mereka yang berhubungan seks dengan partner yang terinfeksi (heteroseksual maupun homoseksual) tanpa pengaman; pasien cuci darah dan cangkok organ; serta pekerja kesehatan, seperti dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan tenaga laboratorium.

Berdasarkan penelitian dr Rino Gani tahun 2000, mereka yang memakai jarum narkoba secara bersama-sama, sekitar 80 persen di antara mereka terkena hepatitis C. ”Selain itu, sekitar 50 persen tertular HIV dan sekitar 20 persen terkena hepatitis B,” kata Unggul.

Karena itu, mereka yang ingin menato atau menindik bagian tubuhnya sebaiknya berhati-hati. ”Berbagi jarum itu berbahaya. Virus tak akan mati meski dibersihkan dengan alkohol, harus disterilisasi panas,” kata Unggul.

Lapak tato

Soal virus HIV dan hepatitis C yang bisa tertular melalui jarum suntik, penato jalanan, Tintar Adi (19), tahu betul risiko itu. Tintar Adi yang bekerja sama dengan Uyek menggelar lapaknya di emperan Blok M di dekat tangga penyeberangan Blok M Plaza, Jakarta Selatan.

Di tubuhnya, Adi punya 10 tato yang dibuatnya sejak setahun lalu. ”Membuat 10 tato ini pakai 10 jarum. Kalau saya menato orang, satu orang ya satu jarum. Kalau jarum tato sudah dipakai, pasti tumpul. Kalau dipaksa dipakai, kasihan orang yang ditato karena akan kesakitan, lalu warna tintanya jadi tidak merata. Jadi, harus jarum baru,” kata Adi.

Penato lapak lainnya, Indra (22), membenarkan apa yang dikatakan Adi. Mereka mengaku tidak sembarangan menggunakan jarum. ”Kami tidak pakai jarum bekas. Jarumnya selalu baru,” kata Indra.

Di sekitar Blok M, ada delapan lapak tato emperan dan tiga studio tato: di Blok M Plaza satu studio dan di Blok M Square ada dua studio.

”Semua teman di lapak pakai jarum baru. Kami tunjukkan dulu jarumnya ke pelanggan. Tidak mahal harga jarumnya, kami pakai jarum jahit atau jarum akupunktur ukuran terkecil, nomor 12. Yang mahal itu tinta tatonya,” papar Adi. Kalau motif besar dengan tinta luar negeri harganya Rp 400.000 jika pakai tinta dalam negeri Rp 150.000.

Troy (20), mahasiswa BSI jurusan periklanan yang mempunyai tiga tato, selalu mengecek jarum yang akan dipakai menato tubuhnya.

Auguste, pemilik studio tato Skin Media di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, dan juga bekerja sama dengan toko piercing D’Paris di Blok M Plaza, mengatakan, komunitas penato yang tergabung di Indonesia Subculture selalu browsing internet untuk menambah pengetahuan.

”Ada guide book agar sukses di bisnis tato, nah di situ ada informasi agar kita pakai jarum baru. Jadi, kecil kemungkinannya penularan dari tato. Kelompok saya selalu pakai jarum baru. Kami ini profesional, kami kerja dengan menggunakan hati, bukan sekadar cari uang dan membahayakan kesehatan pelanggan,” kata Auguste yang belajar menato sejak tahun 1997.

Novi, kepala toko Piercing D’Paris, menyatakan, setiap pelanggan yang mau ditindik selalu membeli jarum untuk dirinya sendiri. ”Selain beli anting, mereka juga beli jarum sekali pakai. Itu untuk kenyamanan pelanggan, jangan sampa penyakit yang harga berobatnya melebihi harga tato atau piercing,” kata Novi.

Jika demikian, tak ada salahnya calon pemakai tato dan anting yang akan ditindik mengecek jarum yang akan digunakan. Itu penting untuk mencegah penularan hepatitis C. (LOK)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau