Rumah Karantina Kapuk Antisipasi Wabah Flu Babi

Kompas.com - 29/04/2009, 14:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah Karantina Hewan Babi Kapuk di Cengkareng, Jakarta Barat, mengantisipasi pencegahan wabah flu babi dengan peningkatan pengawasan lalu lintas ternak dan penyemprotan desinfektan dua kali sehari.

"Kami meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak, antara lain dengan memperketat pemeriksaan dokumen atau surat asal hewan serta surat kesehatan hewan dari dinas peternakan setempat," kata penanggung jawab Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan Karantina Kapuk, Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, drh Ramzi Cut Ahmad di Jakarta, Rabu (29/4).

Menurut dia, babi yang masuk ke RPH di tempat tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Tengah, seperti Solo, Wonogiri, Sragen, Klaten, dan Semarang, serta sebagian kecil dari Medan dan Kalimantan Barat.

Berdasarkan data jumlah potongan hewan babi di RPH tersebut, sudah hampir sebulan ini jumlah potongan menurun, terlebih setelah merebaknya kasus wabah flu babi. Sebagai contoh jika dibandingkan jumlah potongan hewan babi pada hari Jumat 17 April 2009 yang mencapai 536 ekor, namun pada Jumat 24 April 2009 hanya 510 ekor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau