Koperasi Diarahkan ke Agribisnis

Kompas.com - 29/04/2009, 16:58 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Koperasi-koperasi di Jawa Timur diarahkan menjadi koperasi agribisnis. Hal itu dinilai sejalan dengan potensi Jawa Timur di bidang agribisnis.

Demikian dituturkan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur, Braman Setyo, Rabu (29/4), seusai pembukaan Rapat Pemanfaatan Dana Bergulir Pengembangan Usana sentra Kulakan Koperasi di Hotel Pelangi Kota Malang.

"Koperasi nantinya akan didorong bergerak di bidang agribisnis. Ini sesuai dengan potensi di Jawa Timur. Contohnya saja tahun 2009 ini Jatim diprediksi surplus beras sebanyak 4 juta ton. Dengan bergerak di bidang agribisnis, koperasi bisa turut serta mengelola surplus ini misalnya dengan menjadi eksportir beras," ujar Braman.

Dari total koperasi di Jatim sebanyak 18.656 koperasi, Braman mengatakan yang berbasis agribisnis saat ini berjumlah 213 koperasi. Diharapkan, tahun 2010 semakin banyak koperasi-koperasi di Jatim menjadi koperasi agribisnis.

Braman menambahkan, secara bertahap koperasi-koperasi di Jatim diharapkan bisa menjadi profesional seperti disyaratkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19, 20, dan 21 Tahun 2008 mengenai standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI). Tahun 2011, menurut Braman, seluruh koperasi di Indonesia diharapkan sudah menjadi profesional.

"Sesuai peraturan ini maka koperasi diharapkan dikelola dengan profesional, manajer yang dipilih bukan asal-asalan seperti kebanyakan saat ini, dan sebagainya," ujar Braman.

Dengan menjadi koperasi profesional, maka akan menghindari sejumlah persoalan yang dihadapi koperasi saat ini, seperti matinya koperasi dan tingginya non performing loan atau kredit macet. Data Dinas Koperasi dan UMKM Jatim menyebutkan bahwa nilai NPL dari dana bergulir di koperasi-koperasi di Jatim tahun 2008 lalu setinggi 9-12 persen. Jumlah itu berasal dari total dana bergulir koperasi sebesar Rp 325 miliar sejak tahun 2003-2008.

"Kalau semakin profesional, koperasi juga bisa bekerja sama dengan bank-bank umum dalam hal penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) atau non-KUR. Ada ratusan koperasi di Jatim yang layak untuk bekerja sama dengan bank-bank umum itu. Ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh kedua belah pihak demi masyarakat luas," ujar Braman.

Jika pengelolaan koperasi tidak profesionalitas, menurut Braman, memungkinkan terjadinya koperasi-koperasi hidup segan mati tak mau seperti saat ini. Koperasi-koperasi ini, menurutnya, tidak dikelola dengan SDM dan pembiayaan yang baik. "Bagi koperasi-koperasi yang seperti ini ada program peleburan atau merger, atau bahkan pembubaran jika memang tidak lagi bisa hidup," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau