Di Luar Negeri, Kuliah Mesti Sambil Kerja Dong!

Kompas.com - 29/04/2009, 18:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, kuliah sambil kerja tentu menjadi jalan keluar untuk menambah uang saku lantaran mahalnya rata-rata biaya hidup di sana. Namun, tiap negara memiliki karakteristik berbeda untuk dilakoni, itu pun kalau Anda tertarik melakukannya.

Menurut Ping Tjuan Suharna dari Japan Study, jumlah pelajar di Jepang yang saat ini menimba ilmu sambil bekerja paruh waktu mencapai 85 persen. "Rata-rata mereka kerja selingan itu selama 20 jam per minggu," kata Suharna. Upah per jam para pelajar tersebut bisa mencapai antara 800 dan 12.000 yen atau sekitar 13.200 rupiah per jamnya.

Di sisi lain, biaya pendidikan di sekolah bahasa di Jepang saja menelan antara 680.000 dan 750.000 yen per tahun. Sementara itu, untuk biaya pendidikan di tingkat S-1 dibutuhkan dana dari 900.000 sampai 1.500.000 yen.

Nah, bisa dibayangkan, berapa besarnya biaya yang Anda keluarkan jika tanpa kerja paruh waktu? Minimal, hasil atau upah kerja tersebut bisa Anda gunakan untuk menutupi biaya hidup, baik itu untuk pergi liburan maupun sekadar beli buku tambahan di luar buku pemberian kampus.

Biaya studi di Australia lain lagi. Per tahun untuk tingkat S-1 bisa mencapai antara Rp 120 juta dan Rp 270 juta per tahun, sementara untuk S2 dari sekitar Rp 150 juta sampai Rp 300 juta rupiah per tahun. Tentunya, angka-angka tersebut belum termasuk biaya hidup, baik untuk makan, tinggal, atau liburan.

Sadar akan besarnya biaya tersebut, Pemerintah Australia pun memberikan kebijakan tersendiri sebagai jalan keluar, yaitu kebijakan kerja paruh waktu. Di masa kuliah, mahasiswa hanya boleh bekerja maksimal 20 jam per minggu. Sebaliknya, jika di waktu liburan mahasiswa boleh bekerja lebih dari 20 jam per minggu, biasanya upah kerja part time itu dari Rp 80.000 hingga Rp 150.000 per jam.

Selain itu, Pemerintah Australia juga memberikan perpanjangan visa selama 18 bulan bagi mereka yang telah lulus kuliah, baik itu di tingkat S-1 maupun S-2. Perpanjangan visa ini bisa digunakan bagi mereka yang ingin mencari pekerjaan di sana.

Eropa Lebih Ketat

Di Inggris pun sebetulnya hampir sama dengan Australia. Namun, khusus siswa yang belajar minimal enam bulan di Inggris akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis serta izin untuk mencari kerja paruh waktu. Maksimal sama, yaitu 20 jam per minggu selama masa kuliah dan lebih dari 20 jam pada masa liburan.

Melalui kebijakan Prime Minister Initiative (PMI) yang efektif berlaku sejak Mei 2006 lalu, Pemerintah Inggris juga memberikan kesempatan bagi seluruh siswa internasional di jalur pascasarjana (S2) untuk memperoleh izin tinggal dan bekerja secara profesional selama 12 bulan tambahan setelah lulus.

Lain halnya di Belanda. Di Negeri Kincir Angin ini, pemerintahnya membuat aturan lebih ketat untuk urusan kerja paruh waktu. Di luar musim panas, mahasiswa internasional hanya boleh bekerja selama 10 jam per minggu.

Saat musim panas waktunya lebih panjang, yaitu maksimal 8 jam per hari. Minimnya waktu untuk kerja part time ini supaya mahasiswa internasional bisa lebih fokus ke kuliah mereka.

Pengalaman Augusty Palupi di Jerman, misalnya. Mahasiswa asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di Jerman ini mengatakan, dalam kurun waktu setahun, pelajar asing di Jerman hanya diperbolehkan bekerja selama 90 hari untuk mereka yang berkerja penuh satu hari.

Sementara itu, mereka yang kerja selama 4 jam atau separuh hari akan memperoleh waktu 180 hari kerja. "Tetapi standar gaji setiap negara tidak sama, kalau di München setahu saya minimal sekitar 7 euro per jam," kata Palupi.

Saat ini, Palupi kuliah di Ludwig Maximillian Universität, Munich, di jurusan Pedagogi. Demi menambah uang saku, Palupi bekerja sambilan di sebuah gedung teater. "Bikin makanan kecil buat para tamu, tapi Minggu depan saya mau praktikum di sebuah playgroup," kata mahasiswi kelahiran 19 Agustus 1976 ini.

Namanya sambilan, Palupi hanya kerja di hari Sabtu dan Minggu dengan upah 8 euro perjam. "Itu juga baru naik beberapa bulan lalu, sekarang lagi ingin cari kerja tambahan karena di tempat kerja yang ini sedang tidak banyak pekerjaan, jadi pendapatan saya juga berkurang banyak," kata Palupi.

Di mata Palupi, kerelaan bekerja seperti yang dilakukannya adalah hal biasa di Jerman, bahkan sangat biasa. Sebaliknya, buat mereka yang baru lulus SMA di Tanah Air, kesempatan kuliah sambil bekerja di luar negeri tentu merupakan hal baru dan sangat menyenangkan. 

Hal tersebut pun diakui oleh Suharna. "Karena selain disiplin mengikuti waktu yang ketat, kebijakan kerja paruh waktu di Jepang bukan sekadar demi tambahan uang saku melainkan juga untuk membuat pelajar mandiri," kata Suharna. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau