Mimpi Apa Ya, Semalam?

Kompas.com - 30/04/2009, 13:21 WIB

KOMPAS.com - Mimpi bukan hal yang asing bagi kita. Terkadang, saking serunya bermimpi, kita terbangun dengan perasaan bingung. Perlu waktu beberapa m enit untuk mengingat-ingat mimpi yang baru saja berlalu. Sesudah itu, kita kerap melupakannya begitu saja. Bukankah mimpi hanyalah bunga tidur?

Itu anggapan dulu. Kini, penelitian telah membuktikan bahwa mimpi dapat membantu kita mengurangi stres, menyembuhkan trauma, membuat tidur lebih nyenyak. Plus, membuat kita terbangun dengan lebih bahagia dan menjawab pertanyaan yang selama ini tak terjawab dan menjadi beban pikiran. Tak cuma itu, menurut Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, sleep technologist dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran, tidur juga bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.

Mengapa mimpi bisa berkekuatan sehebat itu? Sigmund Freud, ahli psikoanalisis dari Austria, menyatakan bahwa mimpi merupakan pesan bawah sadar yang sesungguhnya berisi keinginan dan emosi terpendam kita. Hal yang sama dinyatakan oleh para ahli psikoterapi, di antaranya adalah Robert Hoss, pengarang buku Dream Language, dan Dra. Tieneke S., Ms., Ed., M.Fil., A. ANDR, mantan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Ingin memaksimalkan manfaat mimpi untuk kesehatan mental yang lebih baik? Simak tip-tip para pakar di bawah ini.

Bangun dengan perlahan. Kita cenderung melupakan jalan cerita mimpi hingga 50%-90%. Namun, sebenarnya kita bisa berlatih untuk mengingatnya kembali. Berbaringlah dengan mata tertutup sesaat setelah bangun. Cobalah berkonsentrasi terhadap mimpi yang baru saja berlalu. Kita juga bisa menggunakan jurnal mimpi, yang berisi catatan atau rekaman untuk mendokumentasikan semua mimpi. Segera catat semua isi mimpi saat bangun, lalu baca kembali di saat waktu senggang. Cobalah untuk menghubungkan mimpi dengan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Jangan artikan secara harafiah. Jika kita bermimpi mencium sepupu yang sudah beristri, itu bukan berarti kita ingin mengkhianati istrinya. Biasanya, rasa takut dan cemas akan mendatangkan mimpi berupa hewan-hewan atau mahluk yang menakutkan. Mimpi juga bersifat personal dan menyimpan pesan-pesan tersendiri bagi setiap orang. Bahkan, masing-masing kebudayaan memiliki tafsirnya sendiri-sendiri. Meski begitu, jangan terlalu terpatok kepada buku-buku tafsir itu. Mimpi dapat ditafsirkan secara bebas, sesuai kondisi biologis, psikologis, dan spiritual kita.

Jangan takut bermimpi. Mimpi yang berulang cenderung terjadi pada orang-orang yang mengalami pengalaman traumatis. Terkadang, di dalam mimpi, kita menjadi orang yang pemberani dan bisa mengontrol situasi. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Sebab, mimpi merupakan refleksi keinginan terpendam kita. Apabila kita sering ketakutan, mungkin saja bermimpi menjadi orang yang pemberani. "Mimpi seperti itu biasa digunakan para ahli terapi untuk menyembuhkan tekanan mental," ujar Don Kuiken, Ph.D, ketua penelitian dari University of Alberta, Kanada.

Rasakan emosinya. Perasaan yang kita alami sebelum pergi tidur, tak jarang terbawa hingga ke alam mimpi. Kemudian, diterjemahkan menjadi karakter-karakter tertentu. Contohnya, ketika kita bermimpi melihat sebuah mobil sport. Cobalah telusuri apa arti mobil itu bagi kita. Bagaimana jika kita adalah mobil itu? Kaitkan dengan aspek-aspek kehidupan kita. Interpretasinya bisa begini: mungkin kita sedang dikejar deadline, karena mobil sport bisa dilambangkan dengan keinginan untuk melesat cepat. Jika mobilnya berwarna terang, bisa diartikan sebagai keinginan terpendam untuk menjadi pusat perhatian.

Jadikan sebagai solusi. Saat tidur, emosi kita berada pada titik nol. Itu yang membuat pikiran lebih jernih dan rileks. Otak pun lebih bisa memproses segala informasi yang masuk. "Ini yang membuat kita terbangun di pagi hari dan merasa sudah tahu jawaban atas suatu masalah. Jadi, jangan ragu untuk mengingat sejenak masalah yang sedang kita hadapi sebelum tidur. Biarkan mimpi mencarikan jalan keluarnya," papar Dr. Andreas.

Kegiatan mengingat masalah sebelum tidur, juga dapat mendorong imajinasi sebelum berkarya. Sudah banyak seniman yang menghasilkan karya-karya luar biasa melalui mimpi. Contohnya, Salvador Dali (1904-1989), pelukis terkenal aliran surealis. Sebagian besar tema lukisannya didapat dari mimpi. Begitu pun dengan Paul McCartney. Lagu Yesterday yang terkenal itu adalah hasil mimpinya.

Rencanakan tindakan selanjutnya. "Setelah kita tahu jalan keluar suatu masalah, jadikan itu sebagai panduan untuk mengambil tindakan selanjutnya," saran Robert Hoss. Namun, kalau mimpi tak memberikan solusi atau justru berakhir buruk, ceritakanlah isi mimpi kepada teman, pembimbing spiritual, atau psikolog. Mereka bisa melihatnya dari sudut pandang berbeda. Pertimbangkan apakah solusi itu dapat diterapkan dalam kenyataan. Merefleksikan mimpi dengan cermat, juga dapat membantu kita lebih mengenal diri sendiri. Selamat bermimpi!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau