Flu Babi Bikin Ekspor Tertahan

Kompas.com - 01/05/2009, 08:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mewabahnya virus flu babi lambat laun menggangu kinerja ekspor Indonesia. Pemerintah mencatat beberapa komoditas telah mengalami penahanan ekspor walau belum mencapai tahap pembatalan.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi mengatakan sampai saat ini ada beberapa produk Indonesia yang telah di hold oleh importir. "Ekspor-impor untuk 1-3 bulan ke depan sudah dihold [ditangguhkan] tetapi belum dibatalkan," kata Bayu di Jakarta, kemarin.

Ia menambahkan, WHO dalam satu hari telah menaikkan fase pandemic flu dari fase 4 ke fase 5. Fase pandemik paling tinggi adalah 6, sehingga bisa dipahami bahwa fase flu babi ini telah sangat menghawatirkan karena telah terjangkit dari manusia ke manusia. Selain di sektor perdagangan intertnasional, perdagangan saham juga telah terimbas. “Untuk impor daging babi dan produk turunannya telah pasti akan ditahan,” katanya.

Menurutnya, beberapa penangguhan ini akan berakibat signifikan jika wabah ini terus berlangsung dan membesar lebih jauh. Namun, menurutnya pemerintah belum dapat memastikan berapa besar pengaruh wabah ini bagi Indonesia karena perkembangannya sangat cepat.

Bayu menambahkan akan segera dikeluarkan dua kebijakan yakni Peraturan Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan. Permentan akan mengatur mengenai objek yang akan diimpor, sedangkan Permendag akan mengatur tata cara untuk proses impor produk yang telah direkomendasikan oleh Departemen Pertanian.

Bayu menjelaskan untuk mengantisipasi pertemuan ADB di Bali, pemerintah akan melakukan beberapa langkah pencegahan termasuk kemungkinan untuk mengisolasi dan mengembalikan peserta konferensi yang terkena flu babi. Kendati Indonesia tidak terdapat pandemi flu babi, tetapi perlu waspada sebagai tuan rumah dalam pertemuan ADB.

Hingga saat ini, sudah ada 9 negara yang confirm terjangkit pandemi flu burung, sedangkan 17 negara diindikasikan suspect flu babi. Negara yang sudah dipastikan terjangkit pandemi flu babi adalah Meksiko, Kanada, Selandia Baru, Inggris, Kanada, Australia, Jerman, Prancis dan AS. Padahal, 27 negara tersebut akan mengikuti pertemuan ADB di Bali.

Selain pertemuan ADB yang akan dimulai Sabtu besok, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah dalam World Ocean Conference di Manado, Sulawesi Utara pada medio bulan Mei ini. Peserta dalam WOC itu mencapai 6.000 peserta. (Uji Agung Santosa/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau