Pasangan JK-Win Mudah "Dibedah" Lawan

Kompas.com - 01/05/2009, 20:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasangan capres-cawapres Golkar dan Hanura, Jusuf Kalla-Wiranto, merupakan pasangan yang pertama kali dideklarasikan sebagai petarung pada pemilihan presiden, Juli mendatang. Bagi Wiranto, sebagai pendeklarasi pertama, menunjukkan keberanian kedua partai. Namun, bagaimana dari segi analisis politiknya?

Sebagai pendeklarasi pertama, menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, ada nilai lebih dan ada pula titik lemahnya.

"Kelemahannya karena yang paling awal (dideklarasikan) mudah dipetakan oleh lawan politik yang lain untuk menyerang kelemahan pasangan ini," kata Burhanuddin, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/5) malam.

Untuk mengadang serangan dari lawan politiknya, maka mesin partai keduanya harus bekerja ekstra untuk pemenangan pasangan JK-Win ini. Adapun kelebihan pendeklarasian ini adalah JK dan Golkar bisa mematahkan spekulasi yang berkembang selama ini bahwa capres partai berlambang pohon beringin akan susah mendapatkan pasangan.

"Sekarang mereka (Golkar) membuktikan bahwa mereka bisa mengusung capres," ujar dia.

Terhadap lawan politiknya, Burhanuddin justru melihat bahwa hal itu tak akan berefek apa-apa terhadap capres Demokrat, SBY. Alasannya, posisi presiden incumbent ini relatif aman. Ancaman justru datang pada mitra koalisi parlemennya, PDI Perjuangan dan Gerindra, yang hingga saat ini belum menjawab teka-teki mengenai siapa yang akan diusung sebagai capres dan cawapres.

"Sisi positif lainnya, bisa saja dengan dideklarasikan lebih cepat, akan menarik dukungan dari partai yang belum menentukan sikap, seperti PAN dan PPP," kata Burhanuddin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau