JAKARTA, KOMPAS.com — Pasangan capres-cawapres Golkar dan Hanura, Jusuf Kalla-Wiranto, merupakan pasangan yang pertama kali dideklarasikan sebagai petarung pada pemilihan presiden, Juli mendatang. Bagi Wiranto, sebagai pendeklarasi pertama, menunjukkan keberanian kedua partai. Namun, bagaimana dari segi analisis politiknya?
Sebagai pendeklarasi pertama, menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, ada nilai lebih dan ada pula titik lemahnya.
"Kelemahannya karena yang paling awal (dideklarasikan) mudah dipetakan oleh lawan politik yang lain untuk menyerang kelemahan pasangan ini," kata Burhanuddin, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/5) malam.
Untuk mengadang serangan dari lawan politiknya, maka mesin partai keduanya harus bekerja ekstra untuk pemenangan pasangan JK-Win ini. Adapun kelebihan pendeklarasian ini adalah JK dan Golkar bisa mematahkan spekulasi yang berkembang selama ini bahwa capres partai berlambang pohon beringin akan susah mendapatkan pasangan.
"Sekarang mereka (Golkar) membuktikan bahwa mereka bisa mengusung capres," ujar dia.
Terhadap lawan politiknya, Burhanuddin justru melihat bahwa hal itu tak akan berefek apa-apa terhadap capres Demokrat, SBY. Alasannya, posisi presiden incumbent ini relatif aman. Ancaman justru datang pada mitra koalisi parlemennya, PDI Perjuangan dan Gerindra, yang hingga saat ini belum menjawab teka-teki mengenai siapa yang akan diusung sebagai capres dan cawapres.
"Sisi positif lainnya, bisa saja dengan dideklarasikan lebih cepat, akan menarik dukungan dari partai yang belum menentukan sikap, seperti PAN dan PPP," kata Burhanuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang