Dari Ziekenhuis ke Museum BI

Kompas.com - 02/05/2009, 18:51 WIB

TERLETAK persis di samping tembok kota Batavia bagian dalam, gedung yang digunakan sebagai rumah sakit pertama di Batavia itu di kemudian hari berubah menjadi gedung perbankan, De Javasche Bank untuk kemudian menjadi museum perbankan, Museum Bank Indonesia.
       
Binnenhospital, atau rumah sakit di (bagian) dalam - maksudnya di dalam tembok kota - dibangun tahun 1641 dan menjadi rumah sakit pertama di Batavia.  Rumah sakit ini bertahan lebih dari 160  tahun kemudian, 1808, ketika akhirnya rumah sakit ini ditutup. Rumah sakit pengganti, di luar tembok kota,  sudah dibangun tahun 1724.

Bekas bangunan rumah sakit itu akhirnya digunakan sebagai De Javasche Bank (DJB) pada 1828. Sebelumnya pemerintah Hindia Belanda menawarkan sebuah rumah di Molenvliet - Jalan Gajah Mada - milik Reinier de Klerk yang dibangun tahun 1760 kepada pihak DJB. Pihak DJB menolak.

Alasannya, lokasinya terlalu jauh dari pusat perdagangan karena di abad itu rumah Reinier de Klerk merupakan rumah peristirahatan yang jauh dari hiruk pikuk kota dagang Batavia. Sebagai penggantinya, pihak DJB kembali mendapat tawaran sebuah gedung beserta halaman dengan harga sewa f 500 (500 gulden) per bulan dalam jangka waktu dua tahun atau dibeli seharga f 50.000 dalam jangka waktu pelunasan tiga bulan. Pada 20 April 1828 akhirnya gedung itu dibeli seharga f 45.000.

Setelah 80 tahun menempati gedung kuno itu, Direksi DJB mulai merasa perlu ada gedung baru yang modern dan lebih kokoh untuk mengantisipasi perkembangan usaha yang kian pesat. Sebagai lembaga bank yang menyimpan benda berharga, perlu ada ruang khazanah yang kuat berkerangka besi beton.

Terpilihlah perancang dari Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang didirikan pada 1908 oleh dua arsitek, MJ Hulswit dan EHGH Cuypers serta merupakan cabang dari biro yang sama di Amsterdam.

Awal pembangunan tahap pertama dimulai 30 Oktober 1910. Pembangunan ini mencakup pembangunan gedung di samping yang lama dan menghadap di sepanjang "Binnen Nieuwpoortstraat" (Jalan Pintu Besar Utara)  yang tampak dari luar mempunyai gaya arsitektur neo-klasisme.

Pembangunan tahap kedua ini dimulai dengan pembangunan ruang rapat besar yang dikenal dengan Ruang Hijau karena dindingnya dilapis dengan marmer warna hijau. Pembangunan tahap ke-3 meliputi perluasan bangunan sambungan sepanjang Kalibesar di sayap utara, bersambung dengan bangunan sepanjang Java Bank-straat, kini Jalan Bank, yang bertemu dan menyatu dengan bangunan pertama yang menghadap ke Jalan Pintu Besar Utara.

Pembangunan tahap empat tahun 1933 ruang khazanah dibangun sebagai kepanjangan bangunan tahap ke-1 mengarah ke gedung De Nederlandsche Handle-Maatschappij (NHM) yang kini adalah Museum Bank Mandiri.  Pembangunan tahap ke-5 yang merupakan perluasan dan perombakan seluruh bagian depan sepanjang Jalan Pintu Besar Utara dilakukan 1935.

Museum Bank Indonesia kini merupakan satu-satunya museum di Indonesia yang canggih, menggunakan multimedia. Di dalam museum ini ada koleksi unik bernama Keping Cinta. Keping ini adalah uang Kasha asal banten dari abad 16. Uang tembaga ini berlubang dengan tulisan Jawa "Pangeran Ratu" di sekelilingnya yang kadang dilengkapi tahun Hijrah berhuruf Jawi.

Ruang Peralihan merupakan ruangan pertama dari seluruh rangkaian kunjungan di Museum Bank Indonesia. Di ruang ini pengunjung dapat menikmati atraksi permainan interaktif melalui proyektor khusus (playmotion) yang antara lain menampilkan serangkaian mata uang yang melayang dan akan memberikan informasi ketika pengunjung "menangkap" salah satu mata uang tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau