Pemerintah Minta Pinjaman Lunak Tidak Dihentikan

Kompas.com - 04/05/2009, 14:36 WIB

NUSA DUA, KOMPAS.com — Pemerintah meminta lembaga-lembaga keuangan multilateral tidak menghentikan pendanaan pinjaman lunak bagi program pengurangan kemiskinan dan pengangguran. Hal tersebut disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.

Seiring kenaikan posisi Indonesia dari negara berpendapatan rendah (low income) menjadi negara berpendapatan menengah (middle income), beberapa lembaga keuangan multilateral menghentikan pemberian pinjaman lunak.

"Indonesia masih memiliki problem angka kemiskinan dan pengangguran dalam jumlah besar. Kita minta lebih besar, terutama untuk membiayai program-program jaring pengaman sosial," kata Paskah di sela kegiatan Sidang Tahunan Ke-42 ADB di Nusa Dua, Bali, Senin (4/5).

Menurutnya, lembaga-lembaga donor sebaiknya mengucurkan pendanaan lunaknya pada semua program terkait pengurangan angka kemiskinan, pengangguran, ataupun jaring pengaman sosial. "Ini misalnya bisa dilakukan dengan membiayai proyek-proyek infrastruktur guna menggerakan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah," ujarnya.

Adapun pinjaman komersial, kata Paskah, lembaga-lembaga donor bisa tetap mengalokasikan pada pembangunan proyek infrastruktur dengan skema kerja sama pemerintah dan swasta (public private partnership/PPP).

Sebelumnya, beberapa lembaga donor telah menghentikan pendanaan pinjaman lunak kepada Indonesia. Ini dilakukan menyusul peningkatan posisi Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah dari negara berpendapatan rendah. Terakhir, ADB resmi menghentikan pemberian pinjaman lunak mulai awal tahun ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau