MATARAM, KOMPAS.com - Pendakian ke Gunung Rinjani, Pulau Lombok,Nusa Tenggara Barat, untuk sementara ditutup, menyusul aktivitas vulkanik Gunung Baru, -anak Gunung Rinjani, yang bisa mengancam keselamatan para pendaki.
"Status Rinjani yang semula normal, dinaikkan menjadi waspada," ujar Ir Heryadi Rahmat, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB, hari Senin (4/5) di Mataram.
Aktivitas vulkanik Gunung Baru (2.376 meter) memuncak Sabtu pekan lalu sekitar pukul 16.00, ditandai oleh letusan asap coklat pekat mencapai ketinggian 1.000 meter, yang disertai dentuman lemah, dan aktivitas kegempaan beberapa kali selama 55-90 detik. Aktivitas vulkanik Gunung Baru yang berada di Danau Segara Anak- Kaldera Gunung Rinjani (3.726 meter) itu, nyaris sama dengan tahun 2004.
"Guna mengantisipasi adanya korban, penadakian dari berbagai arah ditutup sementara mulai hari Sabtu. Kami minta petugas untuk melarang siapa pun untuk mendaki, karena risiko mengancam keselamatan jiwa para pendaki," ujar Arief Tungkagie, Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani.
Hingga Senin kemarin aktivitas magamatik Gunung Baru dikabarkan menurun, seperti warna air Danau yang berwarna-warni oleh naiknya alga (rumput), tidak banyak lagi terlihat. "Saya belum bisa memprediksi aktivitas Gunung Baru normal, yang jelas pendakian distop dulu, mengingat adanya hujan debu dan gas beracun yang membahayakan bagi pendaki," tutur Arief.
Heryadi mengingatkan, meski belum perlu diakukan pengungsian, warga di sekitar Gunung itu, seperti aliran Sungai Kokok Putik, agar meningkatkan kewaspadaan, sebab sungai itu adalah limpahan aliran air Danau Segara Anak (1.375.000 meter kubik), yang memungkinkan terjadinya banjir bandang, menuju arah utara lereng Gunung Rinjani.
Berdasarkan telusur pustaka, Gunung Baru itu suka batuk, yang dalam sejarah letusannya sebanyak sembilan kali yaitu tahun 1884, 1901, 1906, 1909, 1915, 1944, 1966, 1988 dan 1994. Dalam letusan tahun 1994, sebanyak 31 orang nyawa hilang dan tujuh luka berat, kerusakan lahan pertanian, bendung dan pendangkalan irigasi akibat banjir bandang yang membawa lahar dingin. Batuan dan material menumpuk tiga bulan di lereng selatan setelah gunung itu meletus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang