Pendakian Rinjani Ditutup Sementara

Kompas.com - 04/05/2009, 17:49 WIB

MATARAM, KOMPAS.com - Pendakian ke Gunung Rinjani, Pulau Lombok,Nusa Tenggara Barat, untuk sementara ditutup, menyusul aktivitas vulkanik Gunung Baru, -anak Gunung Rinjani, yang bisa mengancam keselamatan para pendaki.

"Status Rinjani yang semula normal, dinaikkan menjadi waspada," ujar Ir Heryadi Rahmat, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB, hari Senin (4/5) di Mataram.

Aktivitas vulkanik Gunung Baru (2.376 meter) memuncak Sabtu pekan lalu sekitar pukul 16.00, ditandai oleh letusan asap coklat pekat mencapai ketinggian 1.000 meter, yang disertai dentuman lemah, dan aktivitas kegempaan beberapa kali selama 55-90 detik. Aktivitas vulkanik Gunung Baru yang berada di Danau Segara Anak- Kaldera Gunung Rinjani (3.726 meter) itu, nyaris sama dengan tahun 2004.

"Guna mengantisipasi adanya korban, penadakian dari berbagai arah ditutup sementara mulai hari Sabtu. Kami minta petugas untuk melarang siapa pun untuk mendaki, karena risiko mengancam keselamatan jiwa para pendaki," ujar Arief Tungkagie, Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani.

Hingga Senin kemarin aktivitas magamatik Gunung Baru dikabarkan menurun, seperti warna air Danau yang berwarna-warni oleh naiknya alga (rumput), tidak banyak lagi terlihat. "Saya belum bisa memprediksi aktivitas Gunung Baru normal, yang jelas pendakian distop dulu, mengingat adanya hujan debu dan gas beracun yang membahayakan bagi pendaki," tutur Arief.

Heryadi mengingatkan, meski belum perlu diakukan pengungsian, warga di sekitar Gunung itu, seperti aliran Sungai Kokok Putik, agar meningkatkan kewaspadaan, sebab sungai itu adalah limpahan aliran air Danau Segara Anak (1.375.000 meter kubik), yang memungkinkan terjadinya banjir bandang, menuju arah utara lereng Gunung Rinjani.

Berdasarkan telusur pustaka, Gunung Baru itu suka batuk, yang dalam sejarah letusannya sebanyak sembilan kali yaitu tahun 1884, 1901, 1906, 1909, 1915, 1944, 1966, 1988 dan 1994. Dalam letusan tahun 1994, sebanyak 31 orang nyawa hilang dan tujuh luka berat, kerusakan lahan pertanian, bendung dan pendangkalan irigasi akibat banjir bandang yang membawa lahar dingin. Batuan dan material menumpuk tiga bulan di lereng selatan setelah gunung itu meletus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau