Korupsi di Dunia Pendidikan Perlu Perhatian Serius

Kompas.com - 04/05/2009, 19:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Korupsi di dunia pendidikan perlu mendapatkan perhatian serius seiring dengan kenaikan anggaran pendidikan. Pengelolaan anggaran pendidikan membutuhkan perubahan struktural dan pengawasan ketat.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers mengenai kajian efektivitas anggaran untuk pendidikan yang diselenggarakan oleh Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) dan Indonesia Corruption Watch, Senin (4/5).

Febri Hendri, peneliti dari ICW, mengatakan, perubahan struktural dalam artian dibuat suatu sistem agar publik disertakan dalam perencanaan hingga pemantauan sehingga pengelolaan menjadi lebih transparan. Selain itu, birokrasi pengelola anggaran pendidikan harus terbuka terhadap pengawasan pihak luar. "Pengawasan internal atau eksternal yang masih termasuk dalam jajaran birokrasi sifatnya masih mengamankan program pemerintah," ujarnya.

Chitra Septyandrica, peneliti dan Program Manager Pattiro, mengatakan, dalam pengaturan anggaran pendidikan, biaya administrasi perlu dikurangi. Di sisi lain, pemerintah perlu meningkatkan anggaran (investasi dan operasional) yang sampai ke sekolah, menegaskan pembagian pembiayaan pusat dan daerah, dan memperbesar anggaran yang didesentralisasikan, khususnya belanja modal.

Pembenahan kebocoran itu tidak cukup kasus per kasus, tetapi penanganan yang sistemik. Perbaikan itu antara lain dengan transparansi distribusi skema anggaran (pusat dan daerah), simplifikasi skema penyaluran ke sekolah (one school one account), perbaikan manajemen keuangan tingkat sekolah, serta penguatan monitoring penggunaan anggaran, khususnya peran DPR/DPRD dan Komite Sekolah.

Pattiro bersama Brooking Institution dari Amerika meneliti 137 proyek sebagai percontohan di Gresik dan Serang pada tahun 2008. Penelitian terhadap 30 sekolah negeri dan 10 sekolah swasta jenjang SD dan SMP. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat tujuh pola penyimpangan yang terjadi yakni pengucuran dana tidak sesuai kebutuhan sekolah, keterlambatan pencairan, penyimpangan cara penyaluran, potongan tidak wajar, belanja tidak sesuai peruntukan, pengurangan hasil, serta kebocoran dalam alokasi, penggunaan dan audit. Skema penyaluran anggaran ke sekolah juga rumit dan masing-masing skema mempunyai aturannya masing-masing. Transparansi anggaran sangat rendah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau