JAKARTA, KOMPAS.com — Apa untungnya Megawati Soekarnoputri menggandeng Prabowo Subianto dari Partai Gerindra sebagai calon wakil presidennya? Pertanyaan ini kerap ditanyakan menyusul makin intensifnya komunikasi politik kedua partai ini.
Ketua DPP Maruarar Sirait menuturkan sejumlah hal yang menjadi pertimbangan PDI-P untuk menggaet Prabowo. Pertama, PDI-P membutuhkan tambahan suara dan itu dapat diperoleh dari Partai Gerindra yang memperoleh suara cukup mengejutkan meski sebagai partai baru.
Gerindra juga memenuhi ambang batas parliementary threshold. Maruarar juga menyebutkan, keduanya juga memiliki kesamaan dari segi platform ekonomi. PDI-P dengan ekonomi kerakyatan, sedangkan Gerindra dengan ekonomi kemandirian.
"Yang ketiga, kami (PDI-P) butuh fighter dan pekerja keras yang punya semangat tinggi dan itu ada pada Prabowo," ujar Maruarar.
Namun, Maruarar mengingatkan bahwa elektibilitas Mega tetap lebih tinggi daripada Prabowo. Sejumlah survei menunjukkan kans Mega sebagai lawan terberat Yudhoyono. Jaringan yang dibangun Mega ke daerah pun lebih luas. Belum lagi fakta bahwa perolehan suara PDI-P lebih besar daripada Gerindra.
"Memang logistik penting, tapi itu bukan segalanya dan PDI-P juga punya cukup logistik," tutur Maruarar menyinggung kelebihan Gerindra dan Prabowo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang