Ketergantungan Dollar AS, Indonesia Perlu Rezim Moneter Baru

Kompas.com - 06/05/2009, 11:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia perlu menjadi inisiator dalam terciptanya "rezim moneter" baru dengan menerapkan standar mata uang emas guna terealisasinya stabilitas nilai tukar dan menghilangkan ketergantungan terhadap dollar AS.

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam Drs Agustianto, MA, seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (6/5), mengatakan, pola mata uang yang diterapkan Indonesia dan beberapa negara di Asia saat ini sangat tergantung terhadap dollar AS sehingga menyebabkan nilai tukar sering mengambang (floating exchange).

Hal itu mengakibatkan nilai tukar mata uang beberapa negara di Asia tidak pernah mengalami stabilitas moneter dan berbeda antara satu negara dan negara lain.
    
Kondisi itu sangat menguntungkan spekulan dengan mempermainkan jumlah uang yang beredar guna mendapatkan nilai tukar yang ditargetkan.

Indonesia, kata dia, dapat menerapkan konsep standar mata uang emas itu bekerja sama dengan negara tetangga yang ingin mewujudkan stabilitas nilai tukar.

Meski memerlukan waktu dan kerja keras, hal itu dapat dilakukan sebagaimana yang terjadi di negara Eropa yang memberlakukan euro.

Negara-negara Eropa itu, khususnya Eropa Timur, telah belajar dari pengalaman yang stabilitas ekonominya sering tidak menentu akibat sangat tergantung terhadap dollar AS. "Akhirnya, negara-negara Eropa itu berhasil mengatasi ketergantungan mereka sehingga berani mengucapkan good bye dollar," katanya.
    
Menurut dia, tanpa standar baru itu, kebijakan moneter yang dilakukan pemerintah hanya untuk kepentingan jangka pendek dan bersifat situasional. Pola kebijakan seperti itu tidak akan pernah membuat rupiah stabil. "Meski saat ini menguat tapi rupiah bisa anjlok tiba-tiba," katanya.    

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami tren penguatan dalam beberapa bulan terakhir hingga mencapai Rp 10.490/10.500 per dollar AS pada Senin (4/5).
    
Kurs rupiah di pasar spot antar bank Jakarta, Selasa (5/5) sore kembali menguat 80 poin menjadi Rp 10.410/10.420 per dollar AS karena pelaku pasar makin aktif bermain sebagai cerminan semakin besarnya aliran dana ke pasar.

Kurs rupiah pernah lebih menguat pada akhir 2004 yang mencapai Rp 9.000 per dollar AS, tetapi juga pernah "terjun bebas" hingga mencapai Rp 15.000 per dollar AS ketika Indonesia menghadapi krisis pada pertengahan 1998.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau