JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pakar ekonomi syariah mengutarakan pendapatnya, penguatan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS dalam beberapa bulan terakhir ini cukup positif. Apalagi, jika hal itu berlangsung dalam jangka waktu lama.
"Menguatnya rupiah diharapkan akan ikut menggairahkan bisnis di Indonesia, khususnya dalam kegiatan ekspor-impor, " kata Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Agustianto di Jakarta, Selasa (5/5).
Penguatan rupiah terhadap dollar AS, kata dia, akan membuat produksi sektor riil terutama di sektor swasta yang berpotensi dijadikan komoditas ekspor semakin berdaya. Selain itu, penguatan rupiah diharapkan pula akan ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena semakin kuatnya daya beli mereka.
Sementara pemerintah, melalui instrumen perekonomiannya diharapkan terus mengupayakan stabilitas nilai tukar rupiah khususnya terhadap dollar AS agar dunia usaha, termasuk perekonomian berbasis syariah tidak ragu-ragu dalam berinvestasi.
Jika tidak stabil, sambungnya, pelaku bisnis akan "setengah hati" dalam berinvestasi dan menerapkan pola "wait and see" karena khawatir usahanya tidak memberikan keuntungan atau justru merugi.
Semakin tinggi fluktuasi mata uang, kata Agustianto, semakin tinggi pula persentase menurunnya minat pelaku usaha dalam menanamkan investasinya, mengingat dalam ekonomi syariah, stabilitas mata uang sangat diprioritaskan dan menjadi salah satu tujuan utama. "Tanpa stabilitas, fluktuasi mata uang akan dimanfaatkan oleh para spekulan untuk mendapatkan keuntungan, " katanya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tren penguatan dalam beberapa bulan terakhir hingga mencapai Rp10.490/10.500 per dollar AS pada Senin (4/5).
Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (5/5) pagi kembali menguat 90 poin menjadi Rp 10.400/10.420 per dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang