Rani Juliani di Mata Ny Antasari

Kompas.com - 07/05/2009, 09:15 WIB

KEHADIRAN Rani Juliani, caddy (pemandu golf) Padang Golf Modernland, dalam kehidupan Ketua KPK nonaktif, Antasari Azhar, baru diketahui istrinya, Ny Ida Laksmiwati, ketika berita mengenai pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ramai diberitakan media massa.

“Awalnya saya melihat berita di televisi. Kemudian saya bertanya kepada Bapak mengenai kebenaran berita itu. Bapak bilang tidak terlibat. Saya percaya pada penjelasan Bapak dan tidak tanya-tanya lagi,” kata Ida di Jakarta, Rabu (6/5).

Kedua anak Antasari bersekolah di Australia, dan mereka mengetahui persoalan yang menimpa ayahnya dari pemberitaan di internet. “Saya berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa papa tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu. Mereka percaya karena tahu persis bagaimana ayahnya,” tambah Ny Ida.

Ia juga mengaku mengetahui hobi Antasari bermain golf. ”Saya tidak pernah melarang atau keberatan terhadap hobi Bapak main golf karena beliau juga tidak pernah menghalangi aktivitas saya,” katanya.

Saat nama Rani disebut dalam kasus itu, Ny Ida sempat menanyakan kepada Antasari. “Bapak mengatakan, dia (Rani) adalah pegawai golf. Beliau memang kenal. Wajar kan kalau pemain kenal dengan pegawai golf. Saya tak punya prasangka buruk pada Bapak,” ungkapnya.

Karena percaya betul dengan sang suami, Ny Ida tidak menanyakan lebih lanjut mengenai Rani Juliani. “Setelah dijelaskan dan saya memahami, saya tidak bertanya lagi. Pernyataan dan penjelasan Bapak membuat saya percaya,” kata Ny Ida.

Di mata perempuan tersebut, Antasari bukan tipe pria romantis. “Biasa-biasa saja. Beliau hanya mencium saya pada saat ulang tahun perkawinan, ulang tahun saya, atau momen khusus lainnya,” ujarnya tersenyum.

Apa kebiasaan Antasari yang selalu diingat Ny Ida? Menurutnya, begitu bangun di pagi hari, Antasari lebih dulu mencari koran. “Begitu bangun, yang dicari lebih dulu adalah koran, bukan cari saya. Mungkin beliau lebih cinta koran daripada saya,” ujar Ny Ida berseloroh.

Apa tidak cemburu? “Memang kesukaan Bapak setiap bangun pagi itu baca koran. Kalau koran belum diantar, Bapak selalu tanya-tanya, mana ini korannya kok belum datang. Saya cemburu pada koran,” katanya sambil tersenyum.

Setelah Antasari menghuni sel tahanan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya mulai Senin (4/5) lalu, Ny Ida mengaku tidak kesepian. “Di malam hari, Bapak biasa tidur lebih dulu, sedangkan saya belakangan. Jadi kalau sekarang Bapak tidak bisa tidur di rumah, ya tidak jadi masalah buat saya,” katanya.

Hanya saja, ada sedikit perbedaan yang dirasakannya, yaitu tidak ada lagi orang yang menyalaminya ketika hendak berangkat ke kantor. “Setiap kali hendak berangkat ke kantor, Bapak selalu menyalami saya,” katanya.

Menjawab pertanyaan apa yang membuat Ny Ida tertarik pada sosok Antasari di masa muda, ia menceritakan pria berkumis tebal itu berani meminang dirinya di kantor orangtuanya. “Bapak saya waktu itu bilang, kalau ingin meminang harus berani datang ke kantor beliau. Itu yang kemudian dilakukan Pak Antasari,” katanya mengenang.

Ny Ida mengaku, setelah Antasari ditahan banyak ucapan, baik melalui telepon maupun SMS, bernada simpati kepada dirinya. “Keluarga, kenalan, dan handai taulan, semua memberi dukungan simpati kepada keluarga kami,” katanya. (persda network/feb)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau