Puluhan Biksu Ambil Air Suci Umbul Jumprit

Kompas.com - 07/05/2009, 15:27 WIB

TEMANGGUNG, KOMPAS.com — Puluhan biksu dewan sangha Buddha Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) melakukan prosesi pengambilan air berkah Waisak tahun 2009, di Umbul Jumprit, lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
     
Prosesi dipimpin oleh Ketua Vidyaka Sabha Walubi, Biksu Dhyanavira Mahastavira, Kamis (7/5), mulai sekitar pukul 11:30 WIB. Prosesi antara lain dihadiri Direktur Jenderal Agama Buddha Departemen Agama Budi Setiawan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Walubi Siti Hartati Murdaya, dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Walubi Jateng David Hermanjaya.
     
Pengambilan air berkah Waisak dimulai dengan penyalaan lilin dan dupa di sebuah altar dengan patung Buddha berwarna kuning emas yang di sekitarnya dihias dengan rangkaian bunga, buah, dan sejumlah patung berbentuk stupa dari bahan gelas.
     
Biksu Dhyanavira, Dirjen Budi Setiawan, Hartati, David, disertai para pimpinan dewan sangha Buddha yang masing-masing membawa kendi kemudian berjalan menuju mata air Umbul Jumprit. Mereka dengan iringan tembang-tembang rohani Buddha mengambil air dari tempat itu untuk kemudian diusung menuju ke altar guna penyakralan. Doa dan pembacaan parita suci dipimpin oleh Biksu Dyanavira diikuti para biksu lainnya.
     
Air berkah itu menjadi salah satu sarana puja yang penting bagi umat Buddha dalam merayakan Tri Suci Waisak yang puncaknya pada hari Sabtu (9/5) mendatang di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
     
Biksu Dhyanavira mengatakan, tradisi pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit dilakukan dalam rangkaian perayaan Waisak setiap tahun. "Air kemudian diarak ke Candi Mendut untuk sarana puja detik-detik Waisak dan kemudian diarak ke Candi Borobudur pada hari Waisak (9/5)," katanya. Ia mengatakan, air tersebut bagi umat Buddha diyakini memberikan kesembuhan.
     
Pada masa lalu, katanya, sang Buddha memercikkan air di sebuah kota bernama Waisali, yang sedang menghadapi suatu musibah berupa wabah penyakit, yang mengakibatkan banyak orang meninggal dunia. "Setelah sang Buddha memercikkan air di kota itu, musibah hilang," katanya.
     
Hartati mengatakan, umat mendapat ajaran dari sang Buddha tentang makna air sebagai sarana melakukan berbagai perbuatan kebaikan. "Melalui air, kehidupan manusia disegarkan, air memberikan kesembuhan dari sakit, ketenangan batin, kadang untuk mengusir makhluk jahat," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau