MALANG, KOMPAS.com — Pemilih di Kota Malang dalam pemilihan umum presiden (pilpres) Juli mendatang diperkirakan membengkak hingga 15.000-an orang. Ini karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerapkan model baru penjaringan pemilih, dari pemilih berbasis kartu tanda penduduk (KTP) menjadi berbasis domisili.
"Perbedaan model penjaringan pemilih dari berbasis KTP menjadi berbasis domisili ini diperkirakan akan membuat tambahan pemilih di Kota Malang sekitar 15.000 orang dibandingkan pemilu legislatif lalu," ujar Anggota KPU Kota Malang, Suwarno, Kamis (7/5) di Malang.
Menurut Suwarno, perkiraan itu dilihat dari pertambahan pemilih di Kecamatan Blimbing saja yang diperkirakan bertambah 5.000 orang. Maka dari lima kecamatan yang ada di Kota Malang diperkirakan tambahan pemilih pada pilpres mendatang sebanyak 15.000-an orang.
"Mereka ini berasal dari mahasiswa atau pekerja yang kos di Malang. Mereka dahulu mendapatkan hak pilih di daerah asal. Namun dengan sistem baru ini mereka bisa memilih di Malang," ujar Suwarno.
Kepala Bagian Humas Pemkot Malang Subkhan menambahkan, data dari Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Kota Malang menunjukkan bahwa kenaikan jumlah pemilih di setiap kelurahan di Kota Malang mencapai 5-15 persen. "Selain dari orang luar yang tinggal di sini, juga berasal dari pemilih pemula. Pemilih pemula pada pilpres Juli mendatang jumlahnya mencapai 3.000 orang," ujar Subkhan.
Dengan bertambahnya pemilih, maka dipastikan akan ada perubahan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) dan jumlah tempat pemungutan suara (TPS). Pada pemilu legislatif lalu jumlah DPT di Kota Malang mencapai 570.885 orang. Mereka terfasilitasi memilih di 1.490 TPS.
Kemungkinan pada pilpres mendatang jumlah TPS akan berkurang 200 buah. "Ini karena kuota pemilih per TPS naik menjadi maksimal 800 pemilih. Tidak seperti pada pileg lalu di mana setiap TPS jumlah pemilih maksimal 500 orang," imbuh Suwarno.
Penambahan jumlah pemilih, menurut Suwarno, diharapkan juga berdampak pada semakin kecilnya angka golput di Kota Malang. Selama ini jumlah golput di Kota Malang pada pemilihan-pemilihan umum berkisar 20-30 persen.
"Semoga saja pada pilpres ini semakin berkurang dan tidak lebih dari itu. Ini karena memang partisipasi warga Kota Malang cukup baik," ujar Suwarno.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang