Pemilih Pilpres di Kota Malang Dipastikan Membengkak

Kompas.com - 07/05/2009, 19:43 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Pemilih di Kota Malang dalam pemilihan umum presiden (pilpres) Juli mendatang diperkirakan membengkak hingga 15.000-an orang. Ini karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerapkan model baru penjaringan pemilih, dari pemilih berbasis kartu tanda penduduk (KTP) menjadi berbasis domisili.

"Perbedaan model penjaringan pemilih dari berbasis KTP menjadi berbasis domisili ini diperkirakan akan membuat tambahan pemilih di Kota Malang sekitar 15.000 orang dibandingkan pemilu legislatif lalu," ujar Anggota KPU Kota Malang, Suwarno, Kamis (7/5) di Malang.

Menurut Suwarno, perkiraan itu dilihat dari pertambahan pemilih di Kecamatan Blimbing saja yang diperkirakan bertambah 5.000 orang. Maka dari lima kecamatan yang ada di Kota Malang diperkirakan tambahan pemilih pada pilpres mendatang sebanyak 15.000-an orang.

"Mereka ini berasal dari mahasiswa atau pekerja yang kos di Malang. Mereka dahulu mendapatkan hak pilih di daerah asal. Namun dengan sistem baru ini mereka bisa memilih di Malang," ujar Suwarno.

Kepala Bagian Humas Pemkot Malang Subkhan menambahkan, data dari Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Kota Malang menunjukkan bahwa kenaikan jumlah pemilih di setiap kelurahan di Kota Malang mencapai 5-15 persen. "Selain dari orang luar yang tinggal di sini, juga berasal dari pemilih pemula. Pemilih pemula pada pilpres Juli mendatang jumlahnya mencapai 3.000 orang," ujar Subkhan.

Dengan bertambahnya pemilih, maka dipastikan akan ada perubahan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) dan jumlah tempat pemungutan suara (TPS). Pada pemilu legislatif lalu jumlah DPT di Kota Malang mencapai 570.885 orang. Mereka terfasilitasi memilih di 1.490 TPS.

Kemungkinan pada pilpres mendatang jumlah TPS akan berkurang 200 buah. "Ini karena kuota pemilih per TPS naik menjadi maksimal 800 pemilih. Tidak seperti pada pileg lalu di mana setiap TPS jumlah pemilih maksimal 500 orang," imbuh Suwarno.

Penambahan jumlah pemilih, menurut Suwarno, diharapkan juga berdampak pada semakin kecilnya angka golput di Kota Malang. Selama ini jumlah golput di Kota Malang pada pemilihan-pemilihan umum berkisar 20-30 persen.

"Semoga saja pada pilpres ini semakin berkurang dan tidak lebih dari itu. Ini karena memang partisipasi warga Kota Malang cukup baik," ujar Suwarno.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau