DENPASAR, KOMPAS.com — Merebaknya virus A/H1N1 atau flu babi yang merenggut korban jiwa di Amerika Serikat dan Meksiko berdampak negatif terhadap usaha pengembangan peternakan babi di Bali, dengan kerugian mencapai lebih dari Rp 30 miliar.
"Di Bali meskipun tidak ditemukan virus A/H1N1 yang menakutkan itu telah menimbulkan kerugian mencapai Rp 30 miliar lebih," kata Kepala Laboratorium Biomedik Universitas Udayana (Unud), Dr Drh I Gusti Ngurah Mahardika di Denpasar, Jumat (8/5).
Kerugian yang cukup besar itu dihitung dari menurunnya usaha peternakan babi di Bali, yang hampir seluruhnya digeluti ibu-ibu rumah tangga di pelosok pedesaan.
Menurut dia, di Bali dengan populasi babi sekitar 900.000 ekor, berat potong rata-rata 100 kg dengan harga berat hidup Rp 17.000 per kilogram sehingga nilai peternakan babi mencapai Rp 1,53 triliun.
"Jika isu flu babi itu tetap berlanjut, akan mengakibatkan permintaan semakin berkurang dan harga menjadi sangat murah," ujar Mahardika, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud.
Dengan kondisi saat ini, kerugian yang dialami peternak babi di Bali mencapai Rp 30 miliar, yang dihitung dari jumlah pemotongan babi setiap tahunnya mencapai 28.800 ekor, dengan harga yang terus merosot dari Rp 17.000/kg hidup, kini hanya Rp 13.000.
Beternak babi bagi masyarakat Bali adalah tabungan, tetapi dengan adanya isu flu babi telah melemahkan sistem jaring pengaman sosial dalam menghadapi krisis ekonomi global.
Hal itu tidak hanya berlaku di Bali, tetapi juga dialami beberapa daerah lain di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Sulawesi utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
Di sejumlah daerah di Indonesia tersebut, populasi babi diperkirakan enam juta ekor, 90 persen dipelihara dalam skala rumah tangga dan hanya 10 persen yang dipelihara perusahaan.
Sistem pemeliharaan secara tradisional sering digunakan sebagai tabungan oleh masyarakat pedesaan, di samping persiapan melaksanakan upacara adat dan kegiatan ritual.
Untuk menghindari kerugian masyarakat yang cukup besar, masyarakat diimbau tidak perlu takut mengonsumsi daging babi karena virus A/H1N1 hingga saat ini tidak ada di Bali.
"Dengan demikian tidak ada alasan harga babi maupun daging babi menjadi semakin murah, sementara pakan ternak harganya terus naik," ujar Mahardika.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang