Kisah Mesra PDI-P dan Gerindra Belum Berakhir

Kompas.com - 08/05/2009, 15:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati hubungan antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya disebut-sebut tidak mencapai titik temu karena kedua pucuk pimpinan tersebut tetap bersikeras hendak melaju ke pertarungan pemilu presiden mendatang, tetapi Sekretaris Jenderal PDI-P Pramono Anung membantah hal tersebut.

Menurutnya, komunikasi antara kedua partai wong cilik tersebut belum berakhir sebelum pendaftaran pasangan capres dan cawapres ke Komisi Pemilihan Umum hingga tanggal 16 Mei mendatang. "Terlebih antara PDI-P dan Gerindra, dan beberapa partai lainnya, sepakat untuk berkoalisi permanen di parlemen," ujar Pramono seusai kunjungan pasangan capres-cawapres JK-Win ke kediaman Mega, Menteng, Jakarta, Jumat (8/5).

Pramono menambahkan, hingga kini PDI-P tetap membangun komunikasi politik dengan partai-partai lainnya yang ingin mendekat ke kubu "Moncong Putih" tersebut. "Semoga dalam beberapa hari ini sudah dapat diambil keputusan," imbuh Pramono.

Terkait pertemuan antara Ketua Dewan Pertimbangan Partai PDI-P Taufik Kiemas dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono kemarin di Cikeas, Pramono menampiknya. Menurutnya, setiap pertemuan parpol selalu didampingi oleh dirinya selaku sekjen PDI-P.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau