Waisak di Antara Berbagai Persoalan

Kompas.com - 09/05/2009, 06:02 WIB

Oleh I.CITRA SENJAYA

Pada 9 Mei 2009, seluruh umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2553 BE. Dalam perayaan tersebut, umat Buddha memperingati tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Sidharta Gautama, Sidharta mencapai kesempurnaan sebagai Buddha, dan mangkatnya Sang Buddha.

Berbagai permasalahan serta tantangan mewarnai peringatan Waisak tahun ini, seperti krisis ekonomi global, pemanasan global, kondisi politik menjelang Pemilu Presiden, hingga ancaman penyebaran flu babi.

Sejumlah tema yang berusaha untuk membantu umat manusia dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi ini.

Sangha Agung Indonesia mengangkat tema "Eling Membangun Kemenangan Waisak, Damai dalam Diri, Harmoni Dengan Semua".

Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia Biksu Dharmavimala mengimbau umat manusia untuk terus meningkatkan keterjagaan dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi di dunia.

Menurut dia, kedamaian yang diharapkan harus diawali dari dalam diri manusia sendiri. "Bagaimana damai terhadap orang lain akan tercapai, jika tidak dimulai dari diri sendiri," katanya.

Ia menuturkan, konflik yang terjadi dalam diri manusia merupakan urusan pribadi, sehingga harus diselesaikan sebelum mengharapkan damai dari orang lain.

Tema Waisak yang diangkat tersebut, kata dia, sangat sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.

Ia mengatakan, banyaknya permasalahan, seperti situasi politik menjelang Pemilihan Presiden 2009, merebaknya Flu Babi hingga krisis ekonomi global, tentu memerlukan keterjagaan dari seluruh umat manusia dalam menghadapinya.

"Egoisme pribadi harus dapat dihilangkan untuk mewujudkan damai bagi seluruh umat manusia," katanya.

Sekretaris Jenderal Majelis Buddhayana Indonesia Budiman menambahkan, tema tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali kesadaran umat manusia dalam upaya menghadapi kondisi dunia saat ini.

Menurut dia, pada situasi semacam ini, egosime manusia terlibat bertambah besar. "Hal itu terlihat dari sikap ’cuek’ terhadap lingkungan dan perilaku hidup," katanya.

Dalam kaitannya dengan Pemilihan Presiden pada Juli mendatang, ia mengimbau kepada seluruh umat Buddha untuk waspada terhadap kepentingan yang menghancurkan. "Jangan jadikan politik sebagai ajang perebutan kekuasaan," katanya.

Ia mengatakan, Majelis Buddhayana Indonesia mengharapkan presiden yang mampu menjaga stabilitas negara dalam berbagai hal, termasuk menjamin harmonisasi kehidupan berada.

Sementara itu, Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia mengangkat tema Waisak 2553, "Kehadiran Buddha Membawa Keharmonisan dan Ketulusan Bangsa".

Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia Surya Widya mengatakan, melalui tema tersebut, masyarakat diimbau agar tidak terpecah belah dengan berbagai permasalahan yang muncul saat ini.

Menurut dia, keharmonisan dalam kehidupan umat manusia harus terus dijaga.

Adapun dalam konteks politik menjelang Pemilu Presiden, kata dia, jabatan yang akan disandang sesungguhnya merupakan amanah.

Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia mengharapkan calon presiden yang mampu memajukan negara ini.

Kedua organisasi ini juga membebaskan umat Buddha di Indonesia untuk bebas menentukan pilihannya dalam Pemilu Presiden mendatang. "Sesuai dengan inti ajaran agama ini, Buddha membebaskan umatnya untuk bersikap," kata Surya.

Sekretaris Jenderal Majelis Buddhayana Indonesia Budiman mengharapkan agar seluruh umat Buddha menggunakan hak politiknya dalam Pemilu Presiden.

Ia juga menjamin, Majelis Buddhayana Indonesia tidak akan berafiliasi dengan partai politik manapun menjelang Pemilihan Presiden.

Namun, Majelis Buddhayana juga tidak melarang jika ada umat Buddha yang ingin mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden, kata Budiman. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau