JK: Pemerintah Akan Berikan Satu Tabung Gas Lagi

Kompas.com - 09/05/2009, 13:40 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Wapres Jusuf Kalla menyatakan, pemerintah sekarang ini tengah mempertimbangkan untuk memberikan lagi secara gratis satu buah tabung gas elpiji 3 kilogram kepada setiap rumah tangga. Tujuannya agar jika ada masalah terkait tabung gas elpiji yang pernah diberikan oleh pemerintah sebelumnya, setiap rumah tangga mempunyai cadangan. Pemerintah sebelumnya telah memberikan satu buah tabung gas elpiji 3 kilogram berikut isinya.

Demikian disampaikan Wapres Kalla saat temu wicara dengan kelompok perwakilan masyarakat yang mengatasnamakan "Masyarakat Peduli Sesama", Sabtu (9/5). Temu wicara dilakukan Wapres Kalla seusai meninjau pabrik pembuatan Tabung Gas Elpiji 3 kilogram Nisaka Logamindo, yang terletak di seberang lokasi temu wicara di kawasan industri Jababeka, Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat.

"Supaya rumah tangga stabil, kita masih merundingkan agar setiap rumah tangga yang menggunakan minyak tanah akan diberikan dua buah tabung gas. Sekarang baru satu tabung yang diberikan. Dulu memang akan diberikan dua buah tabung sekalian, tetapi belum kita setujui. Sekarang itu kita belum putuskan, karena masih dihitung," tandas Wapres Kalla.

Menurut Wapres Kalla, masalah yang bisa terjadi terkait tabung gas elpiji adalah jika ada kekurangan pasokan gas elpiji, tabungnya bermasalah, dan pasokannya terlambat. Daya tahan setiap tabung gas elpiji diperkirakan enam tahun dan harus diganti lagi. "Hitungan Pertamina secara nasional terkait kebutuhan tabung gas elpiji, sebenarnya jika satu tabung ada di rumah tangga, maka satu tabung gas ada di agen. Sedangkan satu tabung lagi ada di pengisian gasnya. Dengan demikian, produksi tabung gas itu sebenarnya tidak akan berhenti," tambah Wapres Kalla.

Wapres Kalla melanjutkan, program konversi minyak tanah dengan gas elpiji merupakan program konversi terbesar dan tercepat di dunia. Pasalnya, dalam waktu tiga tahun, pemerintah berupaya mengganti minyak tanah dengan gas elpiji. Pergantian bahan bakar itu ditargetkan dilakukan pada 50 juta rumah tangga di Indonesia.

"Jika 50 juta rumah tangga, berarti Pertamina harus memproduksi 200 juta tabung dalam waktu tiga tahun sehingga sebulannya dibutuhkan 40 juta tabung. Inilah industri yang tidak pernah berhenti," lanjut Wapres Kalla.

Tentang penghematan dana yang berhasil dilakukan pemerintah dengan program konversi itu, Wapres Kalla menyatakan sebesar Rp 40 triliun. Padahal, ongkos untuk produksi tabung gas dan pasokan gas serta distribusinya hanya mencapai Rp 20 triliun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau