BEKASI, KOMPAS.com — Wapres Jusuf Kalla menyatakan, pemerintah sekarang ini tengah mempertimbangkan untuk memberikan lagi secara gratis satu buah tabung gas elpiji 3 kilogram kepada setiap rumah tangga. Tujuannya agar jika ada masalah terkait tabung gas elpiji yang pernah diberikan oleh pemerintah sebelumnya, setiap rumah tangga mempunyai cadangan. Pemerintah sebelumnya telah memberikan satu buah tabung gas elpiji 3 kilogram berikut isinya.
Demikian disampaikan Wapres Kalla saat temu wicara dengan kelompok perwakilan masyarakat yang mengatasnamakan "Masyarakat Peduli Sesama", Sabtu (9/5). Temu wicara dilakukan Wapres Kalla seusai meninjau pabrik pembuatan Tabung Gas Elpiji 3 kilogram Nisaka Logamindo, yang terletak di seberang lokasi temu wicara di kawasan industri Jababeka, Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat.
"Supaya rumah tangga stabil, kita masih merundingkan agar setiap rumah tangga yang menggunakan minyak tanah akan diberikan dua buah tabung gas. Sekarang baru satu tabung yang diberikan. Dulu memang akan diberikan dua buah tabung sekalian, tetapi belum kita setujui. Sekarang itu kita belum putuskan, karena masih dihitung," tandas Wapres Kalla.
Menurut Wapres Kalla, masalah yang bisa terjadi terkait tabung gas elpiji adalah jika ada kekurangan pasokan gas elpiji, tabungnya bermasalah, dan pasokannya terlambat. Daya tahan setiap tabung gas elpiji diperkirakan enam tahun dan harus diganti lagi. "Hitungan Pertamina secara nasional terkait kebutuhan tabung gas elpiji, sebenarnya jika satu tabung ada di rumah tangga, maka satu tabung gas ada di agen. Sedangkan satu tabung lagi ada di pengisian gasnya. Dengan demikian, produksi tabung gas itu sebenarnya tidak akan berhenti," tambah Wapres Kalla.
Wapres Kalla melanjutkan, program konversi minyak tanah dengan gas elpiji merupakan program konversi terbesar dan tercepat di dunia. Pasalnya, dalam waktu tiga tahun, pemerintah berupaya mengganti minyak tanah dengan gas elpiji. Pergantian bahan bakar itu ditargetkan dilakukan pada 50 juta rumah tangga di Indonesia.
"Jika 50 juta rumah tangga, berarti Pertamina harus memproduksi 200 juta tabung dalam waktu tiga tahun sehingga sebulannya dibutuhkan 40 juta tabung. Inilah industri yang tidak pernah berhenti," lanjut Wapres Kalla.
Tentang penghematan dana yang berhasil dilakukan pemerintah dengan program konversi itu, Wapres Kalla menyatakan sebesar Rp 40 triliun. Padahal, ongkos untuk produksi tabung gas dan pasokan gas serta distribusinya hanya mencapai Rp 20 triliun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang