Soal Cawapres, SBY Tunggu Petunjuk Allah

Kompas.com - 10/05/2009, 13:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak pihak bertanya-tanya kenapa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum juga menentukan siapa cawapres yang akan dipilihnya. Padahal, Partai Demokrat sudah dipastikan mendapatkan suara terbanyak, dan SBY bisa menjadi calon incumbent berdasarkan perolehan jumlah kursi DPR RI. Ternyata SBY lagi menunggu petunjuk Allah.

"Saya yakin namanya (cawapres) sudah di kantong beliau (SBY). Beliau lebih minta petunjuk Allah, demi bangsa ini. Calonnya hanya beliau yang tahu," kata Ketua Bidang Politik Partai Demokrat Nurdin Bangsaraja saat ditemui sesaat setelah keluar dari Ruang Pendaftaran Capres-cawapres di Lantai 2 Gedung KPU, Minggu (10/5).

Lebih lanjut, Nurdin, yang datang hanya untuk memantau, mengatakan bahwa pendeklarasian baru akan dilaksanakan pada 15 Mei 2009, atau 1 hari sebelum penutupan pendaftaran capres-cawapres. "Kita usahakan pada hari itu juga dilakukan pendaftaran," katanya.

Secara pribadi, Nurdin mengharapkan dari 19 cawapres yang disodorkan kepada SBY, yang dipilih adalah cawapres dari luar Jawa. "Supaya ada keseimbangan dan keadilan," katanya beralasan. Ia sendiri berasal dari Lampung.

Kemudian ia menyebut cawapres dari luar Jawa yang ia maksud, di antaranya Hatta Rajasa dari Sumatera Selatan, Abu Rizal Bakrie dari Lampung, Akbar Tanjung dari Sumatera Utara, dan Din Syamsudin dari Nusa Tenggara Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau