Penjualan Menurun, Peternak Babi Kurangi Pakan

Kompas.com - 10/05/2009, 19:40 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Para peternak babi rakyat di Lampung kini mulai mengurangi pakan harian ternak mereka. Upaya itu dilakukan untuk menekan kerugian menyusul makin banyaknya babi yang tertahan tidak bisa terjual setelah maraknya pemberitaan penyebaran virus influenza A H1N1.

Ketut Junaidi, peternak babi rakyat dari Pugung Raharjo, Lampung Timur, Minggu (10/5) mengatakan, pada kondisi normal, satu ekor babi membutuhkan tiga kilogram pakan per hari. Dalam tiga pekan terakhir, ia sudah tidak bisa menjual 30 ekor babi siap potong dari peternakannya.

Kesulitan itu membuat jumlah babi yang harus ia beri makan bertambah. Padahal, untuk memberi makan dan obat-obatan seluruh babi di peternakannya yang berjumlah 300 ekor, ia sudah mengeluarkan Rp 30 juta per bulan.

Untuk menekan kerugian yang lebih besar, Junaidi mengurangi jumlah pakan. Dari semula tiga kilogram per ekor per hari, kini ia hanya memberi 2,5 kilogram per ekor per hari.

Upaya demikian juga dilakukan Andi, pengelola peternakan babi di Pugung Raharjo, Lampung Timur. Ia juga mengurangi pakan dari 2,5 kilogram per ekor per hari menjadi 1,8 kilogram per ekor per hari.

"Kondisi tiga minggu terakhir makin berat. Setiap hari kami mesti mengeluarkan Rp 2 juta untuk memberi makan 1.200 ekor babi di peternakan ini. Kami harus berhitung," ujar Andi.

Upaya yang sama juga dilakukan Nyoman Roye , peternak babi tradisional di Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur. Pada dua minggu di awal Mei, seharusnya sebanyak 30 ekor babi miliknya sudah siap angkut ke Jakarta. Akan tetapi, isu penyebara n virus influenza A H1N1 membuat pembeli menahan diri.

"Akibatnya, kini ia terpaksa memakai uang tabungan untuk memberi makan 75 ekor babi miliknya. Tiga minggu ini saya sudah mengeluarkan Rp 6 juta untuk memberi makan babi-babi," ujar Nyoman Roye.

Untuk menekan pengeluaran lebih banyak, Nyoman Roye juga akhirnya mengurangi pakan babi dari tiga kilogram per ekor per hari menjadi 2,5 kilogram per ekor per hari. Upaya pengurangan pakan menjadikan bobot babi tidak bertambah banyak.

"Apabila bobot badan terus bertambah, pertambahan itu hanya akan menjadi lemak dan itu tidak dihitung pembeli. Kami bisa rugi," ujar Junaidi.

Berdasarkan perhitungan para peternak, pemberian makan 2,4 kilogram pakan setara dengan pertambahan berat 0,7 kilogram berat badan. Apabila pakan dikurangi, tentu berat badan juga tidak akan bertambah signifikan.

Dengan demikian, upaya pengurangan pakan sebenarnya merupakan upaya peternak untuk menekan kerugian biaya pakan dan jatuhnya harga saat penjualan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau