BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Para peternak babi rakyat di Lampung kini mulai mengurangi pakan harian ternak mereka. Upaya itu dilakukan untuk menekan kerugian menyusul makin banyaknya babi yang tertahan tidak bisa terjual setelah maraknya pemberitaan penyebaran virus influenza A H1N1.
Ketut Junaidi, peternak babi rakyat dari Pugung Raharjo, Lampung Timur, Minggu (10/5) mengatakan, pada kondisi normal, satu ekor babi membutuhkan tiga kilogram pakan per hari. Dalam tiga pekan terakhir, ia sudah tidak bisa menjual 30 ekor babi siap potong dari peternakannya.
Kesulitan itu membuat jumlah babi yang harus ia beri makan bertambah. Padahal, untuk memberi makan dan obat-obatan seluruh babi di peternakannya yang berjumlah 300 ekor, ia sudah mengeluarkan Rp 30 juta per bulan.
Untuk menekan kerugian yang lebih besar, Junaidi mengurangi jumlah pakan. Dari semula tiga kilogram per ekor per hari, kini ia hanya memberi 2,5 kilogram per ekor per hari.
Upaya demikian juga dilakukan Andi, pengelola peternakan babi di Pugung Raharjo, Lampung Timur. Ia juga mengurangi pakan dari 2,5 kilogram per ekor per hari menjadi 1,8 kilogram per ekor per hari.
"Kondisi tiga minggu terakhir makin berat. Setiap hari kami mesti mengeluarkan Rp 2 juta untuk memberi makan 1.200 ekor babi di peternakan ini. Kami harus berhitung," ujar Andi.
Upaya yang sama juga dilakukan Nyoman Roye , peternak babi tradisional di Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur. Pada dua minggu di awal Mei, seharusnya sebanyak 30 ekor babi miliknya sudah siap angkut ke Jakarta. Akan tetapi, isu penyebara n virus influenza A H1N1 membuat pembeli menahan diri.
"Akibatnya, kini ia terpaksa memakai uang tabungan untuk memberi makan 75 ekor babi miliknya. Tiga minggu ini saya sudah mengeluarkan Rp 6 juta untuk memberi makan babi-babi," ujar Nyoman Roye.
Untuk menekan pengeluaran lebih banyak, Nyoman Roye juga akhirnya mengurangi pakan babi dari tiga kilogram per ekor per hari menjadi 2,5 kilogram per ekor per hari. Upaya pengurangan pakan menjadikan bobot babi tidak bertambah banyak.
"Apabila bobot badan terus bertambah, pertambahan itu hanya akan menjadi lemak dan itu tidak dihitung pembeli. Kami bisa rugi," ujar Junaidi.
Berdasarkan perhitungan para peternak, pemberian makan 2,4 kilogram pakan setara dengan pertambahan berat 0,7 kilogram berat badan. Apabila pakan dikurangi, tentu berat badan juga tidak akan bertambah signifikan.
Dengan demikian, upaya pengurangan pakan sebenarnya merupakan upaya peternak untuk menekan kerugian biaya pakan dan jatuhnya harga saat penjualan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang