Sri Lanka Dituduh Bunuh 2.000 Warga Sipil

Kompas.com - 11/05/2009, 05:11 WIB

KOLOMBO,KOMPAS.com-Pemberontak Macan Tamil, Minggu (10/5) menuduh pemerintah Sri Lanka membunuh lebih dari 2.000 warga sipil dalam serangan-serangan artileri selama 24 jam, namun militer membantah tegas tuduhan itu.

Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dipasang di situs pro-pemberontak Tamilnet bahwa pemerintah melancarkan ofensif yang menghancurkan sebuah daerah pesisir kecil yang masih dikuasai kelompok gerilya tersebut.

Sebelumnya, pasukan Sri Lanka dikabarkan menewaskan lebih dari 250 warga sipil dalam serangan-serangan artileri di wilayah yang masih dikuasai pemberontak Macan Tamil.

Tamilnet melaporkan 257 mayat telah dibawa ke sebuah rumah sakit setelah serangan pasukan pemerintah, Sabtu malam. Sejumlah 814 warga sipil lainnya cedera dan rumah sakit itu kewalahan melayani para korban, kata laporan itu. Mereka yang tewas itu "ditemukan di bunker-bunker dan di dalam tenda-tenda terpal," kata Tamilnet.

Militer membantah berita itu. Juru bicara Brigjen Udaya Nanayakkara mengatakan pasukan "tidak menggunakan senjata-senjata berat di daerah itu dimana menurut Tamilnet  para warga sipil tewas."

Para pemimpin Sri Lanka  yakin serangan militer mereka hampir mengalahkan pemberontak Macan Tamil, yang terkepung  di pesisir timur laut, setelah 37 tahun konflik etnik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau