Rektor UNTAN Jadi Guru Besar Ilmu Sastra

Kompas.com - 11/05/2009, 19:36 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com--Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak Dr Chairil Effendy di Pontianak, Senin, dikukuhkan sebagai guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sastra pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Ia kini menjadi satu-satunya guru besar di Untan dengan fokus pada sastra lisan. Pidato pengukuhan Chairil Effendy di hadapan Senat Untan tentang "Sastra Lisan, Kearifan Lokal, dan Pembangunan Berkelanjutan".

Menurut dia, sastra lisan di Kalbar mengalami perkembangan yang menyedihkan. "Hanya sedikit yang masih bisa bercerita secara lisan," kata Chairil Effendy. Tradisi lisan yang menggambarkan kearifan lokal pun sangat sedikit yang terdokumentasikan.

Ia memperkirakan dari ribuan tradisi maupun sastra lisan yang ada di Kalbar, hanya separuh yang sudah didokumentasikan. Ia sendiri mendokumentasikan sekitar 300-an buah.

"Banyak data tradisi dan sastra lisan Kalbar yang dihimpun di Institut Dayakologi musnah sewaktu gedung Institut tersebut terbakar dua tahun lalu," kata dia.

Ia selaku Rektor Untan mendorong mahasiswa untuk meneliti tentang tradisi lisan yang ada di Kalbar.

Ia menambahkan, sastra lisan murni kini semakin tergerus oleh perkembangan jaman. "Mungkin anak cucu menganggap yang diceritakan sudah tidak lagi relevan dengan kondisi sekarang. Misalnya tentang binatang karena hutan habis binatang pun sudah tidak ada lagi," kata Chairil Effendy.

Ia yakin, habitat kebudayaan akan tumbuh bagus kalau kondisi suatu wilayah juga terjaga dengan baik. Sedangkan saat ini yang terjadi adalah masyarakat semakin kehilangan identitas dalam berbahasa. "Bahasa adalah identitas suatu bangsa," katanya.

Kondisi itu dapat diselamatkan melalui pembangunan yang berkelanjutan secara bertahap. "Sekarang, kita seolah dicabut, dari masyarakat yang tradisional menjadi moderen. Kita sendiri tidak siap untuk itu," katanya menegaskan.

Sastra lisan, lanjut dia, penuh dengan muatan kearifan lokal. Misalnya tentang si baik dan si jahat, pentingnya menjaga hutan.

Sementara di Indonesia tradisi mendongeng semakin ditinggalkan, di negara maju seperti Jerman, malah marak pelatihan-pelatihan kepada orang tua untuk belajar berdongeng.

"Karena dengan berdongeng secara langsung, akan memunculkan kedekatan antara orang tua dengan anak," kata dia.

Salah satu sastra lisan di Kalbar adalah kisah tentang Raja Ngalam. Setelah didokumentasikan, mencakup seribu halaman karena didendangkan secara terus menerus selama 28 hari.

Kemudian, "kana Tingang Mayang" atau "kana Tingang Tebang" yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk didendangkan.

Chairil Effendy menjadi segelintir profesor yang peduli tentang sastra lisan di Indonesia. Jumlahnya tak sampai lima orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau