KOLOMBO, KOMPAS.com — Sri Lanka pada Senin (11/5) mengecam pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengatakan sejumlah besar rakyat tak berdosa tewas dalam "banjir darah" di timur laut, tempat tentara menggempur pemberontak Tamil.
Menteri Luar Negeri Palitha Kohona menyatakan, pemerintah memanggil wakil Perserikatan Bangsa-Bangsa Amin Awad untuk menerima protes resmi. "Kami mengambil langkah sungguh-sungguh terhadap pernyataan itu," kata Kohona kepada wartawan di Kolombo, "Bukan tugas kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan apa pun kepada umum untuk mempermalukan pemerintah tuan rumah."
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan lebih dari 100 anak-anak di antara penduduk Tamil tewas pada akhir pekan lalu akibat penembakan atas wilayah yang masih dikuasai Macan Tamil itu. "Naskah banjir darah menjadi kenyataan," kata juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gordon Weiss.
Kohona menyatakan sudah menelepon Weiss untuk memprotesnya. "Gordon Weiss seharusnya lebih bijaksana atas perkataannya kepada umum, yang mengandung kepekaan keadaan di lapangan," katanya.
Pemberontak Macan Tamil pada Minggu menuduh Pemerintah Sri Lanka membunuh lebih dari 2.000 warga dalam serangan senjata berat selama 24 jam. Namun, tentara tegas membantah tuduhan itu.
Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) dalam pernyataan yang dipasang di laman pendukungnya, Tamilnet, menyatakan, pemerintah melancarkan serangan menghancurkan terhadap daerah kecil pesisir, yang masih dikuasai kelompok gerilya tersebut. "Lebih dari 2.000 warga tak berdosa tewas dalam 24 jam terahir," kata Tamilnet mengutip S Pathmanathan, pemimpin penyelundup senjata Macan Tamil.
Laman berita itu menyatakan, petugas penyelamat menghitung lebih dari 1.200 mayat. Banyak dari yang tewas itu "ditemukan di lubang perlindungan dan di dalam tenda terpal," katanya.
Seorang dokter pemerintah di daerah kekuasaan Macan Tamil mengatakan kepada jaringan berita Inggris BBC bahwa 370 mayat dan 1.122 korban cedera di bawa ke rumah sakit sementara pada Minggu.
Tentara membantah tudingan pemberontak itu dan menyebutnya propaganda, dengan mengatakan bahwa gerilyawan Tamillah yang melancarkan serangan dengan menggunakan mortir "untuk menjatuhkan citra pasukan keamanan di mata masyarakat, baik secara nasional, maupun internasional". Pernyataan simpang-siur pada Minggu itu merupakan ciri dari perang tersebut.
Pasukan keamanan mengepung Macan Tamil di daerah kecil setelah pertempuran hebat hampir tiga tahun, yang membuat kelompok pemberontak itu, yang pernah menguasai sepertiga wilayah Srilanka, kehilangan "negara" mereka.
Tentara memperkirakan, lebih dari 20.000 warga terperangkap di daerah kecil itu, tempat Macan Tamil melakukan perlawanan terhadap serangan pasukan pemerintah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan, hampir 50.000 warga mungkin terperangkap dalam pertempuran.
Pemerintah menyatakan, pasukannya tidak akan menembaki "wilayah aman". Adapun Macan Tamil tidak memberikan jaminan semacam itu.
Sri Lanka yakin bahwa mereka berada di ambang kemenangan perang atas LTTE setelah pertempuran 37 tahun dan menolak seruan antarbangsa, termasuk negara tergabung dalam G8 dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk menghentikan perang itu.
Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse beberapa kali mendesak pemberontak Macan Tamil menyerah untuk menghindari pembasmian mutlak.
Rajapakse, yang juga panglima tertinggi angkatan bersenjata Sri Lanka, menolak pula seruan gencatan senjata dan menekankan bahwa Macan Tamil harus meletakkan senjata dan mengizinkan warga keluar dari daerah kekuasaan mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang