Matematika Masih Jadi Momok

Kompas.com - 12/05/2009, 20:37 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com -  Mata pelajaran Matematika masih menjadi momok bagi siswa. Di dalam ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN), hampir tiap sekolah memasang batas standar kelulusan minimal (SKM) sangat rendah. Jauh lebih rendah dari dua mata pelajaran lainnya, yaitu Bahasa Indonesia dan IPA.

Matematika diujikan di dalam UASBN pada Selasa (12/5). Banyak guru khawatir, pelajaran ini bisa menjatuhkan siswa. "Kami khawatir kalau tentukan batas tinggi, siswa bisa tidak lulus. Apalagi, kan ada beberapa siswa yang rawan, tidak teliti mengerjakan," ujar Teti Hartiwi, guru kelas VI SDN Tikukur II.

Di sekolah yang sarana prasarananya masih di bawah Sekolah Standar Nasional (SSN) ini, nilai SKM Matematika ditentukan hanya 3,3. Jauh lebih rendah dari dua mata pelajaran lainnya yaitu IPA dengan nilai 4 dan Bahasa Indonesia sebesar 6. Dari hasil pra-UASBN 15 persen dari 38 siswa di sekolah ini capaian nilainya masih mengkhawatirkan, dekat batas kelulusan minimal ini.  

Berdasarkan ketentuan Pedoman Operasional Standar (POS) UASBN 2009, nilai kelulusan UASBN ditentukan dari masing-masing sekolah. Kelulusan ditetapkan melalui rapat dewan guru yang mencakup nilai minimum tiap mata pelajaran dan nilai rata-rata ketiga mata pelajaran. Kelulusan UASBN ini digunakan sebagai salah satu pertimbangan penentuan kelulusan siswa dari satuan pendidikan.

Di SDN Ciujung 3 Kota Bandung, hanya Matematika yang ditetapkan tidak naik batas SKM di tahun ini. Nilainya 4,0. Sementara Bahasa Indonesia dan IPA diputus kan naik masing-masing sebesar 0,5 poin dari tahun lalu." Nilai ini (Matematika) tidak bisa dinaikkan karena masih ada siswa yang dapat nilai sebesar ini dari hasil pra-UN," ucap Sumarya, Kepala SDN Ciujung 3.

Sekolah dasar unggulan macam SDN Merdeka V-IV pun tidak berani mengambil SKM tinggi. Di sekolah ini, ancang-ancang SKM untuk pelajaran Matematika sebesar 3,75. Tidak jauh berbeda dari tahun lalu. "Kita juga harus tetap realistis meski dituntut nilai tinggi," ujar Kepala SDN Banjarsari II Indrawati dari sekolah unggulan lainnya. Di dalam skema Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Matematika dipatok sebesar 66,46 di SDN terfavorit di Kota Bandung ini.

Di saat mayoritas sekolah masih mematok nilai kelulusan rendah, SLB A Negeri Kota Bandung justru berani menyamakan standar kelulusan dengan UN. Nilai rata-rata kelulusan 5,5 dengan tidak boleh ada nilai di bawah 4,0. Jadi, kalau ada siswa punya nilai 9 dan 10 pada Bahasa (Indonesia) dan IPA tapi nilainya 3,9, ia tidak lulus UASBN, ucap Amuda, Wakil Kepala SLBA Negeri Kota Bandung.

Lebih baik

Tahun ini, pembuatan soal Matematika di UASBN juga melibatkan Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI). Menurut Presiden AGMI, Firmansyah Noor, ini adalah sebuah langkah terobosan. Kami dilibatkan dalam proses validasi untuk mencek bahasa, struktur, dan konsep soal. "Tapi, tanpa merubah materinya. Pemerintah daerah lebih berani mengakomodasi pihak yang punya kompeten," ucapnya.

Ia meyakini, kualitas soal Matematika UASBN lebih baik dari ujian nasional, baik di tingkat SMP maupun SMA sederajat. Keterlibatan daerah pun lebih banyak, yaitu 75 porsi pembuatan materi soal berada di provinsi sedangkan sisanya di pusat. Berdasarkan hasil pemantauan, kualitas soal Matematika UASBN lebih variatif dengan ragam tingkat kesulitan. 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau