Konsolidasi di Jatim, JK-Win Minta Restu Ulama

Kompas.com - 13/05/2009, 19:28 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Di saat para calon Presiden masih sibuk mencari pasangan calon Wakil Presiden yang mendampinginya, pasangan capres dan cawapres M Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win) sudah selangkah lebih maju. Keduanya sudah melakukan penjajakan dengan cara menemui para ulama dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di Jawa Timur, Rabu (13/5).

Roadhow dilakukan di sela-sela kunjungan kerja Kalla sebagai Wakil Presiden di Surabaya, Jawa Timur. Saat bersilaturahim dengan para ulama se-Jawa Timur di sebuah restoran di Kota Surabaya, Rabu petang, Kalla menyatakan dirinya maju bersama Wiranto sebagai capres dan cawapres tidak untuk mencari kemuliaan diri dan pribadinya.

"Kami datang untuk mencari kemuliaan bagi bangsa dan negara serta umat. Mohon doa restunya," papar Kalla. Wiranto yang duduk di sebelahnya, sama sekali tidak memberikan sambutan.

Sebelumnya, Ketua Forum Ulama Jawa Timur KH M. Hilmy Basyaiban menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap pasangan JK-Win, karena keduanya dinilai memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam. Namun, keduanya juga diminta untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab dengan syariah Islam dan mencegah aliran sesat seperti di antaranya Ahmadiyah, selain ikut memberantas korupsi, perjudian dan prostitusi.

Dalam kunjungan kerjanya, Wapres Kalla menghadiri Hari Ulang Tahun (Haul) Akbar Pendiri dan Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukerejo, Situbondo dan peresmian Badan Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Nadhlatul Ulama (NU) Jawa Timur serta Pelantikan Social Emergency Response (SER) NU. Adapun cawapres asal Partai Hanura Wiranto menyusul Kalla ke Surabaya pada Rabu sorenya.

Wiranto menjemput Kalla di Bandar Udara Internasional Juanda sesaat setelah Kalla turun dari helikopter Super Puma sepulangnya dari kunjungan kerja ke Situbondo. Ketika menghadiri peresmian Badan Pencegahan dan Penanggulangan Bencana NU Jawa Timur serta Pelantikan NU, Kalla sempat mengenalkan Wiranto sebagai mitranya yang akan mendampinginya dalam pemilihan Presiden dan Wapres 8 Juli mendatang.

Pada pagi harinya, setelah mendarat di Surabaya, Kalla dan rombongan lebih dulu menemui pengasuh Ponpes Miftachus Sunnah, yaitu KH Mkiftachul Akhyar, yang juga Rois Syuriah PWNU. Selanjutnya, ia juga menemui secara khusus mantan Gubernur Jawa Timur, yang kini menjadi tokoh Jawa Timur dan kader Partai Golkar Mohammad Noer di rumahnya di Surabaya.

Malam ini sebelum pulang ke Jakarta, sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar, Kalla mengadakan pertemuan dengan kader dan pengurus Partai Golkar. Dalam kunjungan kerja sehari itu, tidak ada satupun menteri yang mendampingi. Wapres Kalla hanya didampingi Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, yang juga adik iparnya, Sekretaris Wapres Tursandi Alwi serta Deputi Kesra Azyumardi Azra dan staf khusus yaitu Syahrul Ujud.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau