Jangan "Gambling", yang Dekat Saja Dulu!

Kompas.com - 14/05/2009, 16:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bagaimana memilih studi yang tepat di luar negeri? Kita tentu dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan yang penting. Karena memilih perguruan tinggi bukan hanya yang sesuai keinginan dan bakat, tetapi juga harus cocok dengan isi kantong.

Studi ke Amerika Serikat (AS), misalnya. Ini tentu keputusan yang sangat sulit. Bukan apa-apa, di AS terdapat lebih dari 3.000 akademi dan universitas. Jumlah itu belum lagi ditambah ratusan lembaga pendidikan bahasa, khususnya lembaga-lembaga pendidikan bahasa Inggris.

Menurut Marcy Vania, seorang staf Eduworld, sebuah lembaga perwakilan resmi pendidikan luar negeri, memang tidak mudah untuk memilih studi di luar negeri yang sesuai keinginan dan bakat dari siswa tersebut. "Biasanya kami menawarkan siswa untuk tes bakat terlebih dahulu, khususnya untuk mereka yang benar-benar masih bingung memilih jurusan studinya," tutur Marcy.

Biasanya, Marcy menambahkan, jurusan yang diminati oleh siswa tidak terlalu "lari" dari bakat dan hobinya. Mulai komputer, bahasa, bisnis, atau jalan-jalan.

Meskipun demikian, tidak sedikit pula yang sebetulnya gambling, lantaran banyak uang, ajakan atau informasi teman, desakan orangtua, atau semata hanya ingin tahu. "Jika yang dipilih ternyata tidak benar-benar diminati oleh siswa tersebut biasanya akan berhenti di tengah jalan, tentu sayang sekali," ujarnya.

Dari sisi keuangan, pilihan yang sudah disesuaikan dengan minat dan bakat itu tentu harus disesuaikan anggaran. "Saat ini studi paling murah yang masih menjadi pilihan adalah Malaysia, China, Singapura, Selandia Baru, dan Australia," terang Marcy.

Memang, katanya, kalaupun mahal biasanya bukan pada biaya studi, tetapi biaya hidup. "Lain soal jika si siswa ternyata mendapatkan sponsor dari perusahaan atau sekolahnya," tambahnya. 

Untuk itulah, sebagai lembaga perwakilan sekaligus menjadi konsultan studi, Marcy menyarankan, jika siswa tetap berkeras ingin belajar di luar Asia seperti Eropa, Kanada, atau AS, mereka harus bisa menekan biaya. "Kita bisa menyarankan mereka untuk satu atau dua tahun lebih dahulu di Malaysia, setelah itu baru kami transfer ke AS, Australia, atau negara non-Asia lainnya," kata Marcy.

Selain hemat biaya, hal tersebut dilakukan Marcy agar siswa tetap bisa belajar di negara yang berbeda kulturnya dengan negara-negara di Asia. "Wawasan mereka pun jadi bertambah banyak," katanya.

Marcy mengatakan, cara itu akan lebih menghemat biaya ketimbang si siswa harus menetap penuh selama tiga atau empat tahun di negara non-Asia yang membutuhkan biaya hidup minimal mulai Rp 8 juta per bulan.

"Lebih baik pilih negara yang dekat dengan Indonesia dulu, toh kalau sudah siap dengan anggaran lebih kita bisa transfer studi mereka ke negara lain yang lebih jauh dan benar-benar diinginkan," ujar Marcy, sambil menyebut biaya hidup di Asia yang rata-rata minimal sebesar Rp 4 sampai Rp 6 juta per bulan. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau