KOMPAS.com — "Sebagai warga negara Indonesia dan pejabat negara, beliau laporkan kejadian itu kepada pejabat yang berwenang," ujar pengacara Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi nonaktif Antasari Azhar, Juniver Girsang, kemarin.
Antasari merasa terganggu saat datang teror-teror melalui pesan singkat dan telepon. Dalam teror itu, Antasari dituduh telah melakukan tindak pelecehan seksual kepada seseorang. Ia juga telah melihat bukti-bukti tuduhan pelecehan seksual yang ditunjukkan oleh penerornya.
Menurut pengacara Antasari lainnya, teror tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin tewas terbunuh dengan dua butir peluru yang bersarang di kepalanya. Dia ditembak seusai bermain golf di Modernland, Tangerang, pertengahan Maret silam.
Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira mengatakan, ada dua orang yang meneror Antasari. "Antasari minta perlindungan, katanya ada teror dari dua orang dengan inisial N dan R," ujarnya ketika dihubungi wartawan, Jakarta, hari ini (Kamis, 14/5). Beredar informasi Rini adalah Rhani, istri siri Nasrudin dan N adalah Nasrudin sendiri.
Saat itu, Antasari menggelar perkara tentang siapa yang menerornya. Permintaan Antasari tersebut langsung ditanggapi oleh Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dengan membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Kombes Chaerul Anwar.
Berdasarkan penyelidikan, lanjut Abubakar, N dan R berada di Kendari. Hal tersebut disampaikan kepada Antasari. "Lalu, tim bubar. Sampai ada kejadian Nasrudin tertembak. Ternyata, tanpa sepengetahuan Kapolri dan Chaerul, Antasari minta bantuan Wiliardi Wizar (mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan). Oleh karena itu, setelah yang tujuh orang itu tertangkap, Kapolri lah yang memerintahkan Propam menangkap Wiliardi," ungkap Abubakar.
Kemudian dari keterangan Wiliardi dan tersangka lain, Antasari ditangkap. Lalu, apa benang merah antara Nasrudin-Rhani-Antasari, serta Antasari-Wiliardi? Benarkah pembunuhan itu karena asmara?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang