Cewek Berbadan Ular Itu Tiba-tiba Menghilang

Kompas.com - 15/05/2009, 07:15 WIB

BOJONEGORO, KOMPAS.com — Jenglot bertubuh ular dan berkepala mirip manusia yang ditemukan Mbah Lamidi, warga Desa Ngadiluhur, Kecamatan Balen, Bojonegoro, tiba-tiba lenyap. Warga desa kemarin gempar bertanya-tanya, ke mana perginya makhluk aneh yang akan dipamerkan Sabtu besok itu. Saat dikunjungi beberapa anggota Polwil Bojonegoro, makhluk aneh itu tidak menampakkan diri. Ada yang menduga, jenglot yang ditemukan di sungai dekat rumah Mbah Lamidi tersebut ngambek karena akan dipertontonkan kepada khalayak.

Menurut Kepala Desa Ngadiluhur H Dianto, dia bersama beberapa anggota Polwil Bojonegoro sekitar pukul 11.00 kemarin mendatangi rumah Mbah Lamidi guna melihat jenglot. Namun, saat itu hanya terlihat kain udeng (ikat kepala) warna hitam dan kain songket yang dipakai membungkus jenglot. “Dia (jenglot) tidak bersedia menampakkan diri saat tadi saya datangi bersama beberapa orang dari Polwil Bojonegoro,” kata Dianto.

Setelah dirundingkan dengan Mbah Lamidi, katanya, memang demikian ini ciri jenglot. Dia juga merupakan makhluk yang bisa ngambek kalau melihat keadaan tidak seperti yang diinginkanya. “Mungkin dia tidak mau menampakkan diri karena sehari sebelumnya difoto menggunakan blitz. Dan, saat akan dilihat lagi, dia ngambek hingga tak mau menampakkan dirinya lagi," ujarnya. Selain itu, bisa jadi jenglot tersebut juga ngembek karena tahu bahwa dirinya akan dipertontonkan secara umum,” tambahnya.

Namun, Dianto serta Mbah Lamidi yakin bahwa Jenglot tersebut masih ada di tempat itu. Hanya saja, untuk sementara tidak bisa dilihat secara kasat mata. "Kan, tidak semua orang bisa melihat makhluk seperti ini. Jadi, kejadian ini sangat wajar. Yang pasti, Jenglot itu masih ada di sana," sambung Kades.

Melihat kondisi ini, Kades Dianto mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya tidak bisa memastikan rencana pertontonan secara umum jenglot bertubuh ular itu pada Sabtu (16/5) besok, seperti yang sudah direncanakan. Alasanya, kondisi jenglot sedang tidak stabil alias masih tidak bersedia menampakkan diri.

“Terus apa yang akan kita pertontonkan kalau dia tidak menampakkan diri. Tapi, kalau ternyata hari ini dia sudah kembali menampakkan diri, pameran masih sangat mungkin untuk dilanjutkan,” ungkapnya.

Menurut Mbah Lamidi, tidak nampaknya jenglot itu merupakan hal biasa. Karena makhluk tersebut juga merupakan makhluk gaib yang terkadang bisa dilihat oleh manusia. "Memang seperti ini sifatnya. Dia juga bisa nampak dan bisa juga tidak nampak saat dilihat dengan kasat mata. Tapi untuk jenglot ini masih berada di tempatnya, hanya saja untuk sementara tidak bersedia menampakkan dirinya," ungkap Mbah Lamidi.

Terkait tidak bersedianya jenglot menampakkan diri padahal sudah dipersiapkan untuk pameran secara umum, pihak kepolisian juga mengaku sudah mendengarnya. Kabag Ops Polres Bojonegoro Kompol Suhariyono mengaku sudah mendapat kabar tentang jenglot yang tidak menampakkan diri. "Kami sudah mendengarnya. Saat ini kami masih melakukan koordinasi atas permasalahan tersebut," jawab perwira yang sudah sempat melihat secara langsung makhluk aneh tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau