Kehadiran Soekarwo di Deklarasi SBY Dinilai Tak Tepat

Kompas.com - 15/05/2009, 20:53 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Timur Soekarwo secara khusus menyempatkan diri hadir dalam deklarasi pasangan capres dan cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Sebagai pejabat publik, kehadiran Soekarwo dinilai tidak tepat karena berpotensi menunjukkan sikap keberpihakan secara politis pada salah satu pasangan capres dan cawapres.

Demikian diungkapkan pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, Jumat (15/5) di Surabaya. Pada saat seperti ini, Gubernur sebagai pejabat birokrasi tidak perlu hadir dalam acara deklarasi capres-cawapres. "Ini persoalan koalisi dan bukan menjadi tanggung jawab Soekarwo sebagai gubernur," ucapnya.

Menurut Airlangga, kehadiran Soekarwo di Bandung akan menunjukkan sikap keberpihakan politik pada pasangan capres dan cawapres tertentu. Padahal, mulai sejak terpilih sebagai kepala daerah, seorang pejabat publik seharusnya tak memiliki keterikatan pada parpol tertentu.

"Dalam konteks ini tak bisa dibeda-bedakan begitu saja sosok Soekarwo sebagai gubernur maupun pribadi. Masyarakat pasti otomatis memandang beliau sebagai kepala daerah dan bukan sebagai Soekarwo semata-mata," kata Airlangga.

Ketidakterikatan dan netralitas kepala daerah pada parpol atau pasangan capres-cawapres tertentu merupakan konsekuensi praktis dalam posisi mereka sebagai pejabat publik. Pasalnya, dengan sikap keberpihakan tersebut, maka pejabat dapat menjadi mesin politik bagi kelompok tertentu.

Berangkat ke Bandung

Sejak pagi hari, Soekarwo sudah tak berada di ruang kerjanya, di Jalan Pahlawan, Surabaya. Kehadiran Soekarwo ke Bandung dalam rangka memenuhi undangan Partai Demokrat, salah satu partai pengusung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf pada Pilgub Jatim beberapa bulan lalu.

Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, sebelum menghadiri deklarasi capres dan cawapres di Bandung, Soekarwo singgah dulu ke Jakarta untuk membahas Badan Pengembangan Wilayah Jembatan Suramadu (BPWS) dan pembangunan jalan tol di Jawa Timur.

"Waktu pilgub, Pak Karwo dan saya diberangkatkan menjadi gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur oleh Partai Demokrat. Karena itu, jika sekarang beliau ikut dalam deklarasi SBY-Boediono adalah hal yang lumrah," ujar Saifullah di ruang kerjanya, Jalan Pahlawan, Surabaya.

Menurut Saifullah, kunjungan Soekarwo merupakan bentuk penghormatan terhadap undangan Partai Demokrat. Pada prinsipnya, hubungan baik pada semua parpol selalu dijalin.

Secara lebih khusus, Saifullah mengungkapkan, baik Susilo Bambang Yudhoyono, maupun Boediono adalah capres dan cawapres asal Jawa Timur. Karena itu, wajar jika dukungan moril diberikan. Kalau hal itu terserah publik yang melihat dan menilai. "Dukungan kan tidak perlu diungkapkan," ucapnya.

Sebelumnya, saat ditanya tentang keterlibatannya dalam Partai Demokrat, Soekarwo tak memberikan tanggapan. Menurutnya, ia akan memfokuskan diri dalam tanggung jawabnya sebagai Gubernur.

Masih berjalan

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah memproses pengajuan somasi yang akan ditujukan kepada Johan Foundation terkait beredarnya penayangan iklan politik Jusuf Kalla yang memuat gambar Soekarwo. Jika hingga minggu depan iklan yang memuat Gubernur Jawa Timur Soekarwo masih ditayangkan, maka somasi segera dilayangkan.

"Saat itu, Pak Gubernur sedang menjalankan tugas dan sama sekali bukan berkampanye. Selain itu, tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak produser iklan terkait penayangan gambar Gubernur dalam iklan itu," ucap Saifullah.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau