JAKARTA, KOMPAS.com — Bantuan logistik untuk korban bencana Situ Gintung, Ciputat, yang masih berada di penampungan Wisma Kertamukti I hanya mencukupi hingga untuk satu bulan ke depan. "Bantuan logistik untuk satu bulan ke depan masih cukup, bulan berikutnya belum pasti," kata Kasubag Kesejahteraan Pemkot Tangerang Selatan, Lamro Siregar, di Tangerang, Senin (18/5).
Ia mengatakan, bantuan yang diberikan para donatur kepada para korban saat ini ada yang berupa uang, beras atau mi instan, dan bantuan keperluan lainnya. Jumlah bantuan uang sejak bencana terjadi hingga Senin (18/5) yang masuk ke Posko Bencana Situ Gintung Kertamukti I sekitar Rp 5,4 miliar.
Bantuan tersebut belum termasuk logistik, seperti beras, mi, dan keperluan lainnya, hingga saat ini masih ada donatur dari berbagai lembaga yang datang untuk membantu dan melihat kondisi korban di penampungan.
Sedangkan aktivitas korban yang berada di penampungan Kertamukti I saat ini tetap berjalan normal, baik anak-anak yang bersekolah maupun mereka yang bekerja.
Jumlah korban yang berada di penampungan Kertamukti I sebanyak 23 KK, di penampungan Kertamukti II sebanyak 44 KK, korban yang mengontrak di luar sebanyak 124 KK, dan yang ditampung oleh lembaga dompet duafa sebanyak 17 KK.
Korban yang berada di penampungan Kertamukti I dan II ditempatkan di barak berukuran sekitar 5 x 4 untuk masing-masing KK, sedangkan korban yang mengontrak di luar penampungan diberi biaya masing-masing Rp 500.000 setiap bulan untuk waktu selama satu tahun. "Mereka yang mengontrak mendapat Rp 6 juta per KK untuk satu tahun hingga masa rehabilitasi," katanya.
Menurut Lamro, jumlah korban meninggal akibat bencana Situ Gintung berdasarkan data yang akurat dari Departemen Sosial sebanyak 87 orang, sedangkan korban selamat berdasarkan hasil verifikasi baik yang berada di penampungan ataupun yang mengontrak sebanyak 639 jiwa. "Kerugian materi hingga saat ini belum jelas, karena masih dihitung," katanya.
Salah seorang korban selamat, Nia Kurniasari (25), yang berada penampungan Kertamukti I, mengatakan, ia terpaksa masih tinggal di penampungan bersama dua saudaranya karena belum mendapatkan lokasi tempat tinggal untuk menetap setelah rumah kontrakannya hancur saat peristiwa tersebut 27 Maret lalu. "Saya dengar masih tiga bulan lagi tinggal di sini, selanjutnya harus pindah," kata Nia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang