Dimintai Rp 17 Juta, Calon TKI Kecewa

Kompas.com - 19/05/2009, 21:13 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Sebanyak sembilan dari 5.000 orang calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan diberangkatkan ke Korea kecewa karena dimintai uang Rp 17 juta oleh pihak pengelola lembaga pemberangkatan TKI. "Kami kecewa karena lembaga pemberangkatan TKI dalam hal ini IMSEKO (Indonesian Migrant Service Korea) meminta sejumlah uang Rp 17 juta kepada kami," keluh Agus Salam, salah seorang calon TKI asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengikuti pelatihan di Makassar, Sulsel, Selasa (19/5).

Dia mengatakan, sebelum berangkat ke Makassar untuk melakukan pelatihan selama sebulan yang dipusatkan di Badan Latihan Kerja Indonesia (BLKI), pihaknya mendapat kabar jika pemberangkatan calon TKI ke Korea tanpa dipungut biaya apa pun sehingga banyak calon TKI yang melakukan seleksi di daerahnya masing-masing.

"Sebelum saya berangkat ke Makassar, saya bersama teman-teman lainnya mengikuti seleksi di daerah saya yang diikuti oleh ratusan bahkan ribuan orang sehingga terjaring sembilan orang. Setelah terjaring disampaikan jika ini program pemerintah yang tidak dipungut biaya," ujarnya.

Bersama teman-teman, lanjut Agus, mereka berangkat ke Makassar untuk melakukan pelatihan dan pendidikan bahasa selama sebulan dan setelah pendidikan berakhir, setiap peserta atau calon TKI diharuskan membayar uang senilai Rp 17 juta. "Kami tidak tahu kalau akan dimintai sejumlah uang apalagi dengan angka sebesar Rp 17 juta. Kami merasa berat dan tidak punya uang sebanyak itu," katanya.

Sementara itu, Direktur IMSEKO Mulyadi saat dikonfirmasi membenarkan adanya pungutan tersebut. Namun, dirinya tidak merincikan jumlah nominal berapa yang harus dibayarkan oleh setiap calon TKI itu. "Memang benar ada pungutan itu, tetapi kami tidak melakukan pelatihan terhadap calon TKI asal Sumbawa, NTB," katanya.

Menurut Mulyadi, pihaknya selaku direktur lembaga pengiriman calon TKI hanyalah satu dari sekian banyak lembaga. Pihaknya hanya memberikan pelatihan kepada 189 orang calon TKI yang berasal dari beberapa provinsi se-Kawasan Timur Indonesia (KTI). "Memang betul ada banyak calon TKI, apalagi kuota yang disiapkan secara nasional hanya sekitar 5.000 orang dan tidak gratis," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau