Survei Sebaran Orangutan di Kalbar Libatkan 11 Lembaga

Kompas.com - 19/05/2009, 21:41 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Sejumlah 11 lembaga pemerhati orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terlibat dalam survei sebaran populasi dan habitat orangutan di Kalimantan Barat. Hasil dari survei ini diharapkan bisa menjadi acuan untuk progran konervasi orangutan di masa mendatang.

Sebelas lembaga yang terlibat survei ini meliputi WWF, Simpur, People Resources and Conservation Foundation (PRCF), Riak Bumi, Yayasan Palung, Sylva Indonesia Pengurus Cabang Universitas Tanjungpura, Yayasan Titian, AKAR, Suar Institute, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I), dan Yayasan Diantama. Survei dilakukan di 12 kabupaten di Kalbar.

Koordinator Program WWF Indonesia-Kalbar Hermayani Putera, Selasa (19/5), mengungkapkan, survei di Kalbar tersebut merupakan bagian dari survei orangutan di Pulau Kalimantan yang dilakukan The Nature Concervancy (TNC) dan Asosiasi Pengamat dan Ahli Primata Indonesia (APAPI). Survei yang berlangsung sejak Januari hingga Juli 2009 tersebut merupakan implementasi dari Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017.

Menurut Hermayani, sejauh ini diketahui tata ruang di Kalbar belum sejalan dengan upaya konservasi orangutan. Konversi kawasan hutan untuk pembangunan masih belum memperhatikan habitat orangutan. Kalaupun proses konversi itu dilakukan dengan terlebih dahulu membuat analisis mengenai dampak lingkungan, tetapi analisis yang dibuat belum memberikan porsi yang memadai bagi upaya konservasi orangutan di sana.

"Habitat orangutan di kawasan hutan konservasi memang lebih baik dibanding hutan di luar kawasan konservasi. Pembukaan di wilayah konsesi perkebunan maupun perusahaan kehutanan banyak yang tidak menyisakan arealnya untuk konservasi orangutan," katanya.

Sejumlah daerah yang diketahui populasi orangutannya terancam punah akibat pembukaan lahan dan perburuan liar meliputi Kabupaten Bengkayang, Sanggau, Landak, dan Sambas. Habitat orangutan yang masih cukup baik berada di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) di Kabupaten Ketaang dan Kayong Utara, serta di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di Kabupaten Kapuas Hulu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau