Separuh Lebih Terumbu Karang Sulsel Rusak

Kompas.com - 21/05/2009, 00:57 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Hingga saat ini, sekitar 55 persen ekosistem terumbu karang di wilayah perairan laut Sulawesi Selatan rusak akibat ulah oknum nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan  alat peledak berupa bom.
  
Cara penangkapan ikan seperti ini telah merusak ekosistem yang ada di bawah permukaan laut, termasuk terumbu karang taman nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel Iskandar di Makassar, Rabu (20/5).
  
Padahal, lanjutnya, saat memaparkan program kerja tahun 2009, terumbu karang yang ada di pulau-pulau dalam wilayah perairan laut Sulsel kondisinya cukup memprihatinkan karena sisa 45 persen yang masih baik untuk dilindungi dan dijaga kelestariannya.
  
Sedangkan taman laut Takabonerate yang merupakan taman laut ketiga terindah di dunia, tidak hanya terumbu karangnya yang rusak, melainkan juga mengancam jutaan spesies biota laut yang unik, termasuk lingkungan panorama sekitarnya yang cukup indah bisa tercemar akibat pemboman ikan ilegal itu.
  
"Sudah ada pencari ikan dengan cara itu yang ditindak aparat TNI-AL setelah tertangkap basah menangkap ikan dengan alat peledak tersebut," ungkapnya seraya menambahkan, terumbu karang juga merupakan salah satu komoditi yang harus dilindungi dari kepunahan.
  
Ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam merehabilitasi terumbu karang yakni fisiknya, ekologis (lingkungan) dan sosial (masyarakat) sekitar pulau-pulau yang ada di wilayah perairan Sulsel agar ke depan wilayah perairan laut Sulsel aman dari ancaman kepunahan ekosistem tersebut.
  
Pemerintah provinsi Sulsel, ujarnya, memberi kewenangan kepada Pusat Penelitian Terumbu Karang Universitas Hasanuddin, Makassar untuk melakukan upaya pelestarian dan perlindungan terhadap terumbu karang yang ada di wilayah ini.
  
Kerja sama dengan institusi pendidikan tersebut dilakukan melalui suatu kesepahaman (Mou) bagi perlindungan dan pelestarian terumbu karang dan biota laut lainnya di daerah ini, katanya dan menambahkan, anggaran pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan tahun 2009 ini mencapai ratusan juta rupiah.
  
Menurut Iskandar, Sulsel salah satu dari delapan provinsi di Indonesia yang memiliki potensi kelautan. Taman laut nasional Takabonerate terindah ketiga di dunia, memperoleh piagam penghargaan dunia pada pertemuan Internasional Kelautan  (World Ocean Conference) di Manado, Sulut, 11 - 15 Mei 2009.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau