JK Dipercaya karena Golkar, SBY karena BLT

Kompas.com - 21/05/2009, 14:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketiga calon presiden akan berlaga dalam putaran pertama pemilu presiden mendatang memiliki kelebihan masing-masing di mata masyarakat. 

Seorang karyawan bernama Andri (17), yang ditemui di depan Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kamis (21/5), mengaku percaya bahwa pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto akan menang dalam pilpres karena didukung oleh Partai Golkar. 

"Golkar kan kuat dari dulu. Di belakangnya orang-orang kaya, sih," ujar Andri polos. 

Menurut Andri, dengan dukungan konglomerasi tersebut, pasangan JK-Win mampu bekerja meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Lain halnya dengan Rudi (18). Pria yang sehari-hari berjualan makanan di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ini menjagokan SBY dalam pilpres mendatang. Rudi yang menyangka ada enam orang capres dalam pemilihan kali ini mendasarkan kepercayaannya pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dinilainya berhasil. 

"Soalnya kan ada BLT. Semua saudara di kampung saya pada dapat," ujar Rudi. 

Sebelumnya, Deden mengisyaratkan Megawati sebagai capres yang diusung oleh PDI-P dan Gerindra adalah capres yang paling memenuhi harapannya. Hal ini didasarkan Deden pada platform ekonomi kerakyatan yang diusung Mega-Prabowo meski Deden sendiri tak begitu memahaminya secara detail. "Yang penting yang ngerti aja sama rakyat," ujar Deden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau