MAGETAN, KOMPAS.com - Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara dari Markas Besar TNI Angkatan Udara yang diturunkan untuk menyelidiki jatuhnya pesawat C-130 Hercules Alpha 1325 di Magetan, Jawa Timur, Kamis (21/5), masih belum bisa menjelaskan penyebab jatuhnya pesawat itu. "Kami belum bisa menyimpulkan apa-apa dari kondisi di lapangan ini. Kami masih harus melihat data lain terkait pesawat ini," kata Ketua Tim Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) Kolonel (Pnb) Dedy MK dari Markas Besar TNI AU.
Namun, pihak PPKPU tidak akan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi dalam penyelidikan itu. Kapan masyarakat bisa mengetahui penyebab kecelakaan pesawat tersebut, Dedy mengatakan, ia sendiri belum mengetahui.
Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dalam laporannya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, mengemukakan bahwa penyebab terjadinya
kecelakaan belum dapat dipastikan, mengingat proses investigasi masih berjalan. Sesuai dengan perintah Presiden, Panglima TNI juga menginstruksikan pemeriksaan ekstraketat dilakukan terhadap setiap pesawat TNI yang akan diterbangkan.
Pesawat C-130 Hercules Alpha jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Rabu pukul 06.30. Hingga Kamis petang sudah 116 korban ditemukan, 101 di antaranya tewas dan 15 lainnya luka parah. Dari 116 korban yang ditemukan, 4 orang di antaranya adalah warga setempat yang rumahnya tertimpa reruntuhan pesawat, sedangkan 112 orang lain adalah total jumlah penumpang pesawat, sesuai dengan manifes yang dikeluarkan oleh Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Salah satu penumpang yang selamat, Sersan Mayor Rudi Iswanto (45), yang kini dirawat di Rumah Sakit TNI AU Iswahjudi, Magetan, mengatakan, 20 menit setelah pesawat lepas landas, tidak ada masalah yang dirasakannya. Setelah itu, ia tertidur sepanjang perjalanan. Ia baru sadar mengalami kecelakaan ketika sudah berada di rumah sakit.
Sejak Rabu, sejumlah anggota PPKPU berada di lokasi jatuhnya pesawat. Kamis siang, jumlah mereka lebih banyak lagi. Kepala Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja TNI AU Marsekal Pertama I Wayan Sumitra mengatakan, ada lima unsur yang akan diselidiki, yakni faktor manusia, faktor material pesawat, misi penerbangan, media terbang, dan manajemen penerbangan Hercules tersebut.
Sipil di PAUM
Menyangkut sejumlah warga sipil yang ikut sebagai penumpang dan tewas dalam penerbangan ini, Komandan Lanud Iswahjudi, Magetan, Marsma Bambang Samoedro menjelaskan, penerbangan angkutan udara militer (PAUM) pesawat Hercules hanya diperuntukkan bagi kalangan militer (TNI) dan sipil anggota keluarga militer tersebut.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsda Sagom Tamboen menjelaskan, penerbangan rutin yang disebut PAUM biasa dipakai untuk mengangkut personel TNI dan juga keluarga mereka yang ditugaskan ke sejumlah daerah. Hal itu dikatakan Sagom kepada pers di Balai Wartawan Departemen Pertahanan, Rabu.
Terlihat asap
Diperoleh informasi dari saksi mata warga setempat, sebelum pesawat menabrak dua rumah di RT 05 RW 02, dan akhirnya jatuh di areal persawahan, pesawat menukik turun sampai tingginya hanya sekitar 15 meter dari tanah di RT 03 RW 02 Geplak. Ini terlihat dari bagian atas pohon jati dan pohon randu yang terpotong setelah tersambar pesawat. Pesawat lalu naik kembali, seperti meloncat, dan akhirnya jatuh sekitar 500 meter dari lokasi di RT 03 RW 02 Geplak.
Menurut Agus Yulianto, warga Dusun Padasbolong, Desa Kepatihan, Kecamatan Karangrejo, Magetan, dirinya sudah melihat pesawat itu bermasalah saat pesawat mengudara di atas langit Kepatihan atau sekitar 2 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat. Pesawat itu mengeluarkan asap.
"Laju pesawat juga oleng dan pesawat itu terus turun. Selain itu, material pesawat ada yang berjatuhan," kata Agus.
Sebelumnya, Rabu siang, Panglima Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal Suwarno mengatakan, pesawat Hercules C-130 itu terbang dari Lanud Halim
Perdanakusuma, Jakarta, pukul 05.00. Pesawat hibah dari Pelita ini, berencana melakukan penerbangan rutin dengan rute panjang, yakni Halim menuju Lanud Iswahjudi Magetan, dilanjutkan ke Makassar, kemudian Kendari, dan berakhir di Biak, Papua Barat.
Pada saat hendak singgah di Lanud Iswahjudi, pesawat mengontak lanud. Pilot mengatakan posisi mereka berada di long aproach mengarah pada runway. Tiba-tiba Lanud Iswahjudi mendapat kabar pesawat mengalami kecelakaan sekitar pukul 06.30.
"Data yang kami himpun, pesawat menabrak pohon bambu sehingga ada beberapa potongan badan yang terterbelit dan pada akhirnya mengakibatkan
pesawat terbalik," kata Suwarno.
Marsma Bambang Samoedra menambahkan, tower Lanud Iswahjudi melakukan kontak pertama dengan pilot Hercules Mayor (Pnb) Danu Setyawan pada pukul 06.19. Saat itu pilot memberitahukan bahwa pesawat berada di ketinggian 12.000 kaki (dan akan menurun ke ketinggian 7.000 kaki).
Kontak ini berjalan lancar sampai pukul 06.27. Saat itu, Hercules berada di ketinggian 1.000 kaki.
Namun, dua menit berselang, saat tower menghubungi lagi tidak ada jawaban, sampai pukul 06.30 kontak yang diupayakan tower tidak dijawab. Ternyata
pesawat dilaporkan jatuh sekitar 8 kilometer dari Lanud Iswahjudi.
Evakuasi
Dari 116 korban tewas, 14 di antaranya belum bisa diidentifikasi. Dari 101 korban tewas yang sudah teridentifikasi, 44 di antaranya kemarin pagi diberangkatkan
dari hanggar Skuadron 15 Lapangan Udara Iswahjudi, Magetan, ke rumah duka masing- masing.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meyakini kecelakaan yang dialami pesawat TNI tidak berkaitan dengan pemangkasan anggaran pertahanan. Selain menyatakan berbelasungkawa atas musibah kecelakaan tersebut, Presiden meminta TNI AU menjalankan tugas-tugas pertahanan negara dengan meningkatkan pemenuhan faktor keselamatan dan keamanan penerbangan.
( APA/ NIK/ DAY/ DWA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang