Penyebabnya Belum Terkuak

Kompas.com - 22/05/2009, 03:15 WIB

MAGETAN, KOMPAS.com - Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara dari Markas Besar TNI Angkatan Udara yang diturunkan untuk menyelidiki jatuhnya pesawat C-130 Hercules Alpha 1325 di Magetan, Jawa Timur, Kamis (21/5), masih belum bisa menjelaskan penyebab jatuhnya pesawat itu. "Kami belum bisa menyimpulkan apa-apa dari kondisi di lapangan ini. Kami masih harus melihat data lain terkait pesawat ini," kata Ketua Tim Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) Kolonel (Pnb) Dedy MK dari Markas Besar TNI AU.


Namun, pihak PPKPU tidak akan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi dalam penyelidikan itu. Kapan masyarakat bisa mengetahui penyebab kecelakaan pesawat tersebut, Dedy mengatakan, ia sendiri belum mengetahui.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dalam laporannya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, mengemukakan bahwa penyebab terjadinya
kecelakaan belum dapat dipastikan, mengingat proses investigasi masih berjalan. Sesuai dengan perintah Presiden, Panglima TNI juga menginstruksikan pemeriksaan ekstraketat dilakukan terhadap setiap pesawat TNI yang akan diterbangkan.

Pesawat C-130 Hercules Alpha jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Rabu pukul 06.30. Hingga Kamis petang sudah 116 korban ditemukan,  101 di antaranya tewas dan 15 lainnya luka parah. Dari 116 korban yang ditemukan, 4 orang di antaranya adalah warga setempat yang rumahnya tertimpa reruntuhan pesawat, sedangkan 112 orang lain adalah total jumlah penumpang pesawat, sesuai dengan manifes yang dikeluarkan oleh Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Salah satu penumpang yang selamat, Sersan Mayor Rudi Iswanto (45), yang kini dirawat di Rumah Sakit TNI AU Iswahjudi, Magetan, mengatakan, 20 menit setelah pesawat lepas landas, tidak ada masalah yang dirasakannya. Setelah itu, ia tertidur sepanjang perjalanan. Ia baru sadar mengalami kecelakaan ketika sudah berada di rumah sakit.

Sejak Rabu, sejumlah anggota PPKPU berada di lokasi jatuhnya pesawat. Kamis siang, jumlah mereka lebih banyak lagi. Kepala Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja TNI AU Marsekal Pertama I Wayan Sumitra mengatakan, ada lima unsur yang akan diselidiki, yakni faktor manusia, faktor material pesawat, misi penerbangan, media terbang, dan manajemen penerbangan Hercules tersebut.

Sipil di PAUM

Menyangkut sejumlah warga sipil yang ikut sebagai penumpang dan tewas dalam penerbangan ini, Komandan Lanud Iswahjudi, Magetan, Marsma Bambang Samoedro menjelaskan, penerbangan angkutan udara militer (PAUM) pesawat Hercules hanya diperuntukkan bagi kalangan militer (TNI) dan sipil anggota keluarga militer tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsda Sagom Tamboen menjelaskan, penerbangan rutin yang disebut PAUM biasa dipakai untuk mengangkut personel TNI dan juga keluarga mereka yang ditugaskan ke sejumlah daerah. Hal itu dikatakan Sagom kepada pers di Balai Wartawan Departemen Pertahanan, Rabu.

Terlihat asap

Diperoleh informasi dari saksi mata warga setempat, sebelum pesawat menabrak dua rumah di RT 05 RW 02, dan akhirnya jatuh di areal persawahan, pesawat menukik turun sampai tingginya hanya sekitar 15 meter dari tanah di RT 03 RW 02 Geplak. Ini terlihat dari bagian atas pohon jati dan pohon randu yang terpotong setelah tersambar pesawat. Pesawat lalu naik kembali, seperti meloncat, dan akhirnya jatuh sekitar 500 meter dari lokasi di RT 03 RW 02 Geplak.

Menurut Agus Yulianto, warga Dusun Padasbolong, Desa Kepatihan, Kecamatan Karangrejo, Magetan, dirinya sudah melihat pesawat itu bermasalah saat pesawat mengudara di atas langit Kepatihan atau sekitar 2 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat. Pesawat itu mengeluarkan asap.

"Laju pesawat juga oleng dan pesawat itu terus turun. Selain itu, material pesawat ada yang berjatuhan," kata Agus.

Sebelumnya, Rabu siang, Panglima Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal Suwarno mengatakan, pesawat Hercules C-130 itu terbang dari Lanud Halim
Perdanakusuma, Jakarta, pukul 05.00. Pesawat hibah dari Pelita ini, berencana melakukan penerbangan rutin dengan rute panjang, yakni Halim menuju Lanud Iswahjudi Magetan, dilanjutkan ke Makassar, kemudian Kendari, dan berakhir di Biak, Papua Barat.


Pada saat hendak singgah di Lanud Iswahjudi, pesawat mengontak lanud. Pilot mengatakan posisi mereka berada di long aproach mengarah pada runway. Tiba-tiba Lanud Iswahjudi mendapat kabar pesawat mengalami kecelakaan sekitar pukul 06.30.

"Data yang kami himpun, pesawat menabrak pohon bambu sehingga ada beberapa potongan badan yang terterbelit dan pada akhirnya mengakibatkan
pesawat terbalik," kata Suwarno.

Marsma Bambang Samoedra menambahkan, tower Lanud Iswahjudi melakukan kontak pertama dengan pilot Hercules Mayor (Pnb) Danu Setyawan pada pukul 06.19. Saat itu pilot memberitahukan bahwa pesawat berada di ketinggian 12.000 kaki (dan akan menurun ke ketinggian 7.000 kaki).

Kontak ini berjalan lancar sampai pukul 06.27. Saat itu, Hercules berada di ketinggian 1.000 kaki.

Namun, dua menit berselang, saat tower menghubungi lagi tidak ada jawaban, sampai pukul 06.30 kontak yang diupayakan tower tidak dijawab. Ternyata
pesawat dilaporkan jatuh sekitar 8 kilometer dari Lanud Iswahjudi.

Jatuhnya Hercules di Magetan juga telah menyebabkan tiga rumah rusak, yaitu rumah Rusmin, Lasimin, dan Samsudin. Rumah Rusmin dan Lasimin di RT 05 RW 02 Geplak rata dengan tanah, sedangkan rumah Samsudin rusak pada bagian atap. Selain itu, seorang warga setempat juga meninggal dunia.


Evakuasi

Proses evakuasi berlangsung sejak Rabu hingga Kamis. Sedikitnya sudah 116 korban ditemukan, 101 di antaranya tewas dan 15 luka parah. Dari 116 korban yang ditemukan, empat orang adalah warga setempat yang rumahnya tertimpa reruntuhan pesawat, sedangkan 112 orang adalah penumpang pesawat.

Dari 116 korban tewas, 14 di antaranya belum bisa diidentifikasi. Dari 101 korban tewas yang sudah teridentifikasi, 44 di antaranya kemarin pagi diberangkatkan
dari hanggar Skuadron 15 Lapangan Udara Iswahjudi, Magetan, ke rumah duka masing- masing.

Kepala Dinas Kesehatan Markas Besar TNI AU Marsma drg Hartono mengatakan, pada hari kedua ada tiga jenazah yang berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Ketiga korban tewas yang ditemukan terakhir, kemarin, masih disemayamkan di RS Lanud Iswahjudi, Magetan.

Korban tewas seluruhnya disemayamkan di RS Lanud Iswahjudi sebelum diambil oleh keluarga masing-masing. Sebagian korban meninggal akibat luka bakar yang parah. Namun, sebagian lagi disebabkan oleh benturan yang keras. Sedangkan korban luka dirawat di RSU dr Soedono Madiun, dan RS Lanud Iswahjudi. Kebanyakan korban mengalami patah tulang.

Bukan anggaran

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meyakini kecelakaan  yang dialami pesawat TNI tidak berkaitan dengan pemangkasan anggaran pertahanan. Selain menyatakan berbelasungkawa atas musibah kecelakaan tersebut, Presiden meminta TNI AU menjalankan tugas-tugas pertahanan negara dengan meningkatkan pemenuhan faktor keselamatan dan keamanan penerbangan.

( APA/ NIK/ DAY/ DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau