SAAT hamil muda, dokter memvonis Putri kena kanker kelenjar getah bening dan disarankan menggugurkan janinnya. Putri ngotot mempertahankannya. Ternyata keputusannya tepat: sang bayi lahir selamat. Kini, sang buah hati pula yang membuat semangat hidupnya tetap menyala.
Di sini aku ingin berbagi cerita. Mungkin sharing sesama penderita kanker lymphoma (kanker kelenjar getah bening) atau penderita kanker lainnya, membangkitkan semangat dan insya Allah bisa sembuh. Itulah sepenggal curahan hati Putri Fathrika di blognya, http://putrifathrika.blogspot.co.
Meski sedang berjuang melawan penyakit yang ditakuti orang, Putri tetap ingin berbagi. (Blog Putri dibuat Retiara H Nasution atau akrab dipanggil Kaka, teman kampusnya. Menurut mahasiswi IKJ angkatan 2003, Putri sangat senang ketika dibuatkan blog. Wajahnya langsung ceria dan kondisinya membaik. Putri merasa senang karena merasa masih dibutuhkan).
Divonis kanker
Penderitaan ini berawal tahun 2007, saat aku merasakan ada benjolan kecil di leher kanan. Dari semula sebesar buah anggur, lama-lama bertambah jadi 13 buah. Benjolan itu lama-lama menggumpal dan terasa sakit.
Dokter di RS Pelni melakukan biopsi (pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh untuk pemeriksaan). Saat itu, kata dokter, ada pembengkakan kelenjar getah bening dan belum ketahuan aku menderita kanker lymphoma.
Tahun 2008, aku menikah dengan David Monang Simamora, juga mahasiswa IKJ, jurusan desain grafis. Sementara aku, sampai saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswi jurusan seni murni angkatan 2002. Juli, saat hamil muda, tiba-tiba napasku seperti terkunci sampai harus melakukan inhalasi. Kuku juga jadi membiru. Aku dirujuk ke RS di daerah Pondok Bambu.
Selama dua hari aku dirawat dan disarankan melakukan USG. Ternyata, di paru-paru sudah penuh cairan. Begitu akan dikeluarkan, jumlah cairan terlalu banyak hingga membuat jantungku lemah dan nadi tidak ada. Alhasil, harus dibuat jalan napas (trakeostomi) dan harus dilakukan di RSCM karena di rumah sakit ini tidak ada alatnya.
Di RSCM aku kembali menjalani berbagai tes dan pemeriksaan. Hasilnya? Aku menderita kanker kelenjar getah bening stadium IV B. Ini sejenis kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Akibatnya, sel abnormal menjadi ganas. Kemoterapi pun harus kujalani.
Ketika usia kehamilan empat bulan, tiba-tiba detak jatung janinku hilang. Dokter menyarankan, janin dibuang saja. Perang batin luar biasa dahsyat terjadi dalam diriku. Aku ngotot ingin mempertahankannya. Anehnya, setelah keputusan itu, begitu di-USG, detak jantung janinku berdenyut kembali. Lucunya lagi, saat di-USG, ia terlihat seperti sedang menggaruk-garuk dahinya.
Akhirnya, Desember, Al-Farel Alvaro Dave Maghaly Simamora lahir dengan selamat meski prematur (8 bulan) dan paru-parunya belum matang. Selama dua minggu, Al yang bobotnya hanya 1,4 kg ditaruh di inkubator. Al memang anugerah terindah dan mukjizat dari Allah SWT. Bayi terkuat, terhebat, dan sehat. Alhamdulillah, Al kini sudah tumbuh sehat.
Langganan kejang
Karena harus kembali menjalani kemoterapi, aku tak bisa merawat Al setiap hari. Papa yang rajin membawa Al ke RSCM, tiap Minggu, jika kondisiku tidak demam. Aku harus menjalani dua macam kemoterapi, masing-masing delapan kali. Itu tidak bisa dilakukan sekaligus, harus ada jaraknya.
Kemoterapi pertama sudah kujalani, hanya akhir-akhir ini leukosit (sel darah putih) aku suka turun-naik, jadi untuk kemoterapi kedua perlu waktu lagi. Kalau leukositnya tidak mencukupi, kondisi badanku bisa drop. Aku jadi gampang kena penyakit.
Lebaran tahun lalu pun terpaksa kulalui di RS. Di hari besar itu, aku memilih tidur siang karena Mama harus mengunjungi para saudara. Saat bangun, aku kaget setengah mati mendapati rambutku rontok. Dipegang sedikit saja sudah rontok segenggaman tangan. Sedih sekali. Padahal, waktu itu rambutku sepinggang.
Belakangan, aku tahu, leukositku turun menjadi 600/mm3 dan harus masuk ruang isolasi sekitar dua minggu. Terpaksa tidak keramas sampai rambutku seperti gimbal. Karena tak tahan, dikeramas. Rontoknya sampai satu kantung plastik besar, yang kemudian dikubur Mama. Belum sampai rontok semua, kucukur habis saja sekalian.
Kondisiku naik-turun terus. Jika sedang stres berat, langsung sesak napas. Kalau demam, sampai 40,7 derajat celsius dan tidak bisa bertemu Al. Bayangkan, dalam sehari, bisa tujuh kali demam. Saking tingginya suhu tubuh, aku dalam kondisi antara sadar dan tidak. Kalau suhuku 38–39 derajat, badan menggigil dan gemetar. Air mata keluar, bibir panas, mau dikompres enggak bisa, dan sehari bisa sampai enam kali kejang. Demam itu, kata dokter, kemungkinan karena kankernya sudah mencapai batang otak. Atau bisa juga karena kekurangan oksigen sehingga kejang-kejang.
Rupanya penyakit ini kudapat dari kakek dan om dari pihak Papa yang menderita kanker dan leukemia. Sepanjang hidup, aku enggak pernah membayangkan bakal seperti ini. Dulu di awal-awal, aku stres dan lelah memikirkan penyakit ini. Tapi sekarang, aku merasakan keyakinan dan kekuatan. Bahkan optimistis bisa sembuh! Allah akan memberikan kesembuhan asal menghindari stres. Yang penting, pikirkan yang enak-enak saja, cari kesibukan, dan mencoba melakukan semuanya sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang