Berlanjut, Aksi Mogok Makan 55 Warga Sri Lanka di NAD

Kompas.com - 23/05/2009, 16:32 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Aksi mogok makan yang dilakukan 55 pengungsi asal negara Sri Lanka, terus berlanjut. Mereka menyatakan akan tetap mogok makan sampai Badan Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pengungsi (UNHCR) memberikan kepastian adanya negara ketiga yang mau menampung mereka sebagai penerima suaka politik.

Aksi tersebut sudah dijalankan para pengungsi sejak tiga hari yang lalu, sesaat setelah mereka dipind ahkan dari gudang pupuk milik koperasi unit desa di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Rabu (20/5) lalu, ke Lembaga Pemasyarakatan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Lima orang sempat menjalani perawatan medis di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Namun, mereka sudah diperbolehkan pulang ke LP oleh tim dokter yang merawatnya.

Kepala Kantor Imigrasi Meulaboh, Suryo Santoso, ketika dihubungi dari Banda Aceh, Sabtu (23/5) mengatakan, sampai saat ini, para pengungsi tidak mau memakan makanan yang telah disediakan petugas LP. "Mereka hanya mau minum air saja. Tapi, kalau hanya minum air, sampai berapa lama mereka akan bertahan," katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah melakukan upaya persuasif untuk membujuk para pengungsi tersebut menghentikan aksi mogok makan itu. Verifikasi yang telah dilakukan oleh Departemen Luar Negeri RI dikatakan sebagai salah satu upaya untuk menjembatani pertemuan antara para pengungsi dengan perwakilan UNHCR di Indonesia. Namun, sampai saat ini, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau