Polisi Malaysia Tembak Mati TKI

Kompas.com - 24/05/2009, 11:45 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Seorang TKI asal Lombok, NTB, terpaksa ditembak mati polisi Malaysia, Sabtu pagi, karena merampok sebuah rumah di Kampung Jambatan Air Baruk, Malaka, dan menjadikan keluarga korban sebagai sandera.

Kepala Penyidik Kriminal Malaka Salehhudin Abd Rahman mengatakan, TKI yang berusia sekitar 27 tahun itu masuk rumah korban dengan sebilah parang dan senjata api, Sabtu (23/5), demikian media massa Malaysia melaporkan, Minggu.

Menurut cerita polisi, perampok WNI itu masuk rumah korban kemudian menemukan seorang ibu rumah tangga dan tiga anaknya yang berusia antara lima dan sembilan tahun. Ibu dan tiga anaknya kemudian diikat dan dijadikan sandera.

Sang suami yang baru pulang ke rumah dipaksa menyerahkan uang tebusan sebesar 3.000 ringgit (sekitar Rp 9 juta) sebagai imbalan pembebasan istri dan anaknya.

Karena mengaku tidak punya uang, perampok mengizinkan korban menghubungi tetangganya untuk mengusahakan uang tebusan. Namun, tetangga yang dihubungi melaporkan kejadian ini kepada polisi.

Pada Sabtu sekitar pukul 08.00, polisi datang ke lokasi kejadian dan melakukan pengepungan di rumah korban.

Menurut polisi, mereka sudah membujuk perampok agar tidak bertindak melampaui batas. Namun, perampok justru menggunakan pemilik rumah sebagai perisai. Polisi akhirnya menembak tersangka dari jarak 200 meter.

Polisi kini sedang menyelidiki TKI asal Lombok yang dilaporkan pernah bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit. Selain itu, polisi juga sedang mencari kawan si penjahat di kawasan itu.

Mengenai senjata api yang digunakan tersangka, diduga barang curian dari kantor perusahaan perkebunan kelapa sawit tempatnya bekerja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau