JAKARTA, KOMPAS.com — Kebangkitan India dan China sebagai kekuatan dunia masa depan perlu dimanfaatkan Indonesia secara timbal balik. Kedua negara itu memerlukan Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, sementara Indonesia memerlukan China dan India untuk memajukan ekonomi dan ipteknya.
"Oleh karena itu, selain hububngan G to G, perlu juga didorong peningkatan hubungan P to P atau G to P," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta, Senin (25/5).
Din pekan lalu diterima Wapres India Hamid Anshary di kantornya di New Delhi. Din berada di New Delhi sejak 22-24 Mei selaku Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang memimpin sidang Komite Eksekutif, organisasi para tokoh agama se-Asia tersebut.
Pada pertemuannya dengan Hamid Anshary, menurut Din, mereka terlibat dalam pembicaraan yang akrab tentang berbagai masalah internasional, baik hubungan India-Indonesia, kebangkitan Aspac, maupun peran umat Islam di kedua negara untuk mendorong kebangkitan Asia, khususnya dalam bidang ekonomi dan iptek.
Menurut Din, ia menyampaikan selamat atas proses demokrasi di India dengan pemilu yang sukses dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. "Sebaliknya, Wapres India memuji Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern dan orientasi yang rasional dalam ikut memajukan kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia. Kami juga sepakat untuk menjalin kerja sama, baik atas dasar hubungan P to P maupun P to G," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang