JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (25/5) pagi, turun akibat aksi lepas rupiah. Namun, penjualan mata uang Indonesia itu relatif masih kecil yang dilakukan sebagian pelaku pasar untuk mencari untung.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turun menjadi Rp 10.280-Rp 10.290 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 10.260-Rp 10.270 atau melemah 20 poin. Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta mengatakan, aksi lepas rupiah yang dilakukan pelaku pasar terjadi karena pelaku pasar khawatir terhadap situasi politik yang memanas menjelang pemilu presiden dan wakil presiden, 8 Juli 2009.
"Pelaku pasar juga masih khawatir dengan pertumbuhan ekonomi AS yang dikatakan membaik, tetapi Pemerintah AS sampai saat ini masih belum dapat memastikan untuk mengambil alih perusahaan industri mobil General Motor (GM) yang mengalami kebangkrutan," katanya. Hal itu, ujar dia, memicu pelaku pasar berspekulasi melepas rupiah setelah mata uang Indonesia pada pekan lalu mengalami kenaikan yang cukup berarti.
"Namun, aksi lepas rupiah tidak besar karena pelaku masih hati-hati untuk melepas mata uang lokal itu lebih banyak lagi," katanya. Menurut dia, rupiah masih berpeluang untuk menguat lagi. Jadi, koreksi harga yang terjadi saat ini hanya sementara, kemungkinan besar pada sore nanti akan kembali menguat hingga mendekati angka Rp 10.200 per dollar AS.
"Sentimen positif masih mendukung rupiah untuk menguat lagi yang terlihat dari tekanan jual terhadap rupiah tidak begitu besar," ujarnya. Apabila rupiah kembali menguat, tutur dia, dalam dua bulan ke depan rupiah akan dapat mencapai angka Rp 10.000 per dollar AS, dengan catatan didukung oleh lancarnya pemilu presiden.