Imigran Gelap Harus Dideportasi!

Kompas.com - 25/05/2009, 19:29 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com -Wali Kota Bandung Dada Rosada menegaskan bahwa tidak ada tempat di Bandung bagi imigran gelap. Jika pemerintah menemukan imigran gelap, tidak ada pilihan selain deportasi.

"Saya sudah mengimbau kepada seluruh camat, lurah, RW, dan RT untuk terus memantau dan melaporkan tentang para pendatang, terutama yang datang dari luar negeri. Jika dia tidak memiliki dokumen tinggal, segera laporkan ke pihak berwenang untuk mendeportasinya," kata Dada di Bandung, Senin (25/5).

Menurut Dada, imigran gelap bukan hanya mengacaukan data kependudukan, mereka bisa menjadi ancaman keamanan. Sebab, di Indonesia sering terjadi kejahatan yang melibatkan imigran gelap.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Bandung Agus Salim Siregar mengatakan, dalam tahun 2009 ini belum ada kasus yang melibatkan imigran gelap. "Kalau kami menemukan pendatang tanpa surat atau bukti tinggal di Indonesia, kami segera mendeportasinya. Tentunya setelah berdialog dengan kedutaan negara asal imigran terkait," ujarnya.

Agus menjelaskan, yang sering terjadi di Bandung adalah kasus mahasiswa dari luar negeri yang kuliah di Bandung tetapi tinggal lebih lama dari izinnya ( over stay). Dalam sebulan jumlah berkisar 10-20 orang. Rata-rata mereka mengurus perpanjangan izin tinggal sebelum ditegur petugas imigrasi.

"Mereka ini biasanya sedang ada tugas kuliah sepeti kuliah kerja nyata di lokasi yang jauh dari kantor imigrasi, sehingga belum bisa memperpanjang izin tinggalnya," ujar Agus.

Batas maksimal over stay adalah 60 hari. Lewat dari batas tersebut, Agus tak segan untuk mendeportasi imigran terkait.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau