ENDE, KOMPAS.com - Tumpahan solar dari Depot Pertamina Kabupaten Ende, di Flores, Nusa Tenggara Timur di kawasan perairan Pelabuhan Ippi, Selasa (12/5) lalu telah menimbulkan pencemaran yang menganggu lingkungan biota laut sekitarnya.
Kesimpulan itu berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh tim dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ende dan La boratorium Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende.
"Dari parameter BOD (Biological Oxygen Demand) angkanya mencapai 100, yang seharusnya tidak lebih dari 40. Dari indikator ini menunjukkan akibat tumpahan solar itu lingkungan di perairan Ippi telah mengalami penyimpangan," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Laboratorium Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende Petrus Djata, Senin (25/5), di Ende.
Hal tersebut disebabkan film atau lapisan kilat minyak solar yang memenuhi permukaan air menghambat cahaya matahari masuk ke dalam laut, sementara cahaya itu dibutuhkan untuk siklus hidup biota laut.
Namun karena solar yang tumpah ke laut volumenya tidak besar dan telah dilakukan penanggulangan oleh pihak Pertamina, menurut Petrus dampaknya tidak membahayakan, terutama bagi nelayan setempat.
Kasus tumpahan solar itu terjadi hari Selasa (12/5) dini hari sekitar pukul 03.30 wita, ketika pihak Depot Pertamina Ende melakukan pengisian solar 1.700 kiloliter (kl) dari kapal tanker Puteri Jelita ke Tangki I dan IV.
Namun ketika Tangki I hampir terisi penuh, salah seorang petugas Depot Pertamina terlambat memindahkan arus distribusi solar ke Tangki IV, hingga solar pun meluap sekitar 4.000 liter.
Solar yang meluap mengalir ke drainase, lalu masuk ke penampungan jebakan minyak. Akan tetapi berhubung volume penampungan jebakan minyak terbatas, sekitar 200 liter solar lolos menuju muara penampungan yang berbatasan dengan hamparan pasir di pantai Ippi. Jadi, solar yang dapat diselamatkan pihak Pertamina 3.800 liter, sedangkan sisanya ditampung oleh nelayan setempat.
Ketika dikonfirmasi secara terpisah Kepala Depot Pertamina Ende YP Santoso menyatakan, pihaknya telah berupaya mencegah pencemaran lebih luas dengan memasang perangkat penghalau minyak, yang dipasang radius sekitar 30 meter dari bibir pantai.
Selain itu pihak Depot Pertamina Ende juga menyebarkan cairan oil dispersant sekitar 2 galon dengan radius 50 meter dari bibir pantai. Fungsi cairan itu untuk mengubah atau mematikan sifat film atau kilau minyak solar.
"Anda (pers) bisa saksikan di dekat pasir pantai tidak ada film minyak solar yang bertebaran di permukaan air laut, sebab fungsi oil dispersant itu menenggelamkan film minyak hingga ke dasar laut menjadi semacam pupuk. Jadi pencemaran itu dapat diantisipasi," kata Santoso.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang