Dahsyat! Uji Coba Nuklir Korut Timbulkan Gempa

Kompas.com - 26/05/2009, 11:00 WIB

PYONGYANG, KOMPAS.com — Masyarakat internasional mengeluarkan kecaman keras setelah Korea Utara menyatakan berhasil melakukan uji coba nuklir di bawah tanah.

Setelah para seismolog membenarkan bahwa uji coba itu menghasilkan gempa dengan kekuatan 4,5 skala Richter, Presiden Amerika Barack Obama menyatakan program nuklir Korea Utara itu merupakan "ancaman besar" terhadap perdamaian dunia.

China dan Rusia juga mengecam uji coba itu dan menyerukan agar pembicaraan dengan Korea Utara dilanjutkan. Dewan Keamanan PBB langsung mengeluarkan kecaman keras dalam sidang darurat di New York, Senin (25/5).

Kementerian Luar Negeri Perancis Eric Chevallier mengatakan, Perancis, salah satu anggota permanen Dewan Keamanan, akan berkonsultasi dengan negara-negara anggota lain mengenai tanggapan dan kemungkinan memperkuat sanksi atas Korea Utara.

Korea Utara dilaporkan mengeluarkan peringatan bahwa akan ada uji coba kepada Amerika kurang dari satu jam sebelum uji coba dilakukan. Ledakan yang dihasilkan tampaknya jauh lebih kuat dari ledakan dalam uji coba nuklir pertama Korea Utara yang dilakukan bulan Oktober 2006.

Wartawan masalah internasional BBC, David Lyon, mengatakan, Korea Utara telah bergerak dari perundingan pada konfrontasi mengenai masalah nuklir. Kementerian Pertahanan Rusia memperkirakan, ledakan itu dihasilkan dari peledak seberat 20 kiloton, setara dengan bom-bom Amerika yang meratakan Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945.

Berbicara di depan Gedung Putih, Presiden AS Barack Obama mengatakan, Amerika akan bekerja sama dengan sekutu-sekutunya di seluruh dunia untuk "melawan" Korea Utara. "Korea Utara sebelumnya sudah memberi komitmen untuk mengabaikan program nuklirnya," kata Obama.

Korea Utara menyebut uji coba itu sebagai "provokasi yang tidak bisa ditoleransi", sementara Jepang mengatakan segala uji coba nuklir oleh Pyongyang "tidak bisa diterima", dan kedua negara mengatakan akan meminta tindakan dari Dewan Keamanan. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon menyatakan, dia "sangat terganggu". Resolusi 1718 PBB menuntut agar Korea Utara tidak melakukan uji coba nuklir.

Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, uji coba itu akan "mengesampingkan prospek bagi perdamaian di Semenanjung Korea". Rusia dan China juga mendengungkan kecaman, dengan Beijing menyatakan pihaknya "menentang keras" uji coba itu sementara Moskwa menggambarkannya sebagai "pukulan terhadap upaya non-proliferasi". Kedua negara mendesak Korea Utara agar kembali ke meja perundingan.

Pembicaraan enam pihak mengenai perlucutan nuklir Korea Utara, yang melibatkan Amerika, China, Jepang, Rusia, dan kedua negara Korea, tersendat tahun lalu karena Pyongyang tidak menyetujui bagaimana informasi yang telah diserahkan negara itu mengenai kegiatan fasilitas nuklirnya harus diverifikasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau