MADIUN, KOMPAS.com — Semakin banyak warga Kabupaten Madiun yang mengeluhkan paket bantuan kompor gas, sebagai bagian dari program konversi minyak tanah ke gas, yang bermasalah. Mereka pun mengembalikan paket bantuan itu ke balai desa.
Di Desa Purwosari, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, tercatat sudah ada 28 kompor gas yang dikembalikan penerima paket bantuan ke balai desa. Sementara di Desa Klitik, Wonoasri, jumlah kompor yang dikembalikan sudah ada sebanyak 11 unit.
Jumlah ini kemungkinan bertambah karena belum semua ketua RT melaporkan kondisi paket bantuan di masing-masing wilayah RT ke kantor desa.
Sementara di Desa Jatirejo, Wonoasri, tercatat ada 48 unit kompor gas yang bermasalah, 20 di antaranya diperbaiki sendiri oleh warga, sedangkan 28 unit sisanya sudah diganti dengan yang baru.
Menurut Kepala Desa Purwosari, Purnomo, Rabu (27/5), kompor-kompor yang dikembalikan itu di antaranya karena kompor tidak mau nyala, kondisi kompor yang penyok dan berkarat, serta pemantik api yang rusak. Kondisi kerusakan yang sama terjadi pada kompor-kompor gas di Klitik seperti diungkapkan Kepala Desa Klitik Didik Heri.
Baik Purnomo dan Didik Heri dijanjikan oleh konsultan pelaksana konversi gas bahwa kompor-kompor yang rusak akan diganti. Namun, sampai saat ini belum ada penggantian dari konsultan terhadap kompor-kompor yang rusak.
Selain banyaknya paket bantuan kompor yang bermasalah, banyak warga di Purwosari, Klitik, dan Jatirejo yang tidak tahu cara memasang dan menggunakan kompor gas. Meskipun masing-masing keluarga penerima telah diberi pamflet berisi tata cara pemasangan dan penggunaan kompor gas, mereka tidak berani melakukannya karena khawatir meledak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang