LONDON, KOMPAS.com — Butuh waktu empat tahun bagi Inggris untuk mencetak orang kaya ke jumlah tertinggi. Pada 2003, jumlah miliuner Inggris sekitar 230.000 orang, dan pada 2007 jumlah miliuner Inggris mencapai titik tertinggi, yaitu 489.000 orang. Tapi, cuma butuh satu krisis atau setengah tahun untuk memangkas jumlah jutawan kembali ke level tahun 2003.
Centre for Economics and Business Research (CEBR) melaporkan, jumlah orang yang kekayaannya lebih dari 1 juta pound (setara Rp 16,4 miliar) tinggal 242.000 orang. Sebelumnya CEBR memprediksi, orang kaya di Inggris bisa mencapai 760.000 orang pada 2010.
Berkurangnya jumlah orang kaya otomatis menyusutkan jumlah klub jutawan yang berada di Inggris. Beberapa klub jutawan, terutama yang anggotanya jutawan Skotlandia, terpaksa bubar.
Data 2007 menunjukkan, jumlah orang kaya yang tinggal di kawasan Skotlandia diperkirakan 37.326 orang. Berdasarkan data CEBR tadi, saat ini orang kaya di Skotlandia diperkirakan tinggal 5.000 orang.
Penurunan drastis jumlah hartawan tersebut merupakan dampak hancurnya sektor perumahan di negeri Ratu Elizabeth itu. Maklum, "Peningkatan orang kaya di periode 2003-2007 juga karena harga rumah melejit," kata Douglas McWilliams, Chief Executive CEBR.
Tahun lalu, harga rumah di Inggris Raya turun sekitar 17,7 persen. Jones Lang LaSalle Inc dalam risetnya yang diumumkan kemarin memprediksi, harga rumah di Inggris Raya masih berpotensi turun 14 persen pada 2009 dan 3 persen pada 2010. Perusahaan properti tersebut memprediksi, pasar rumah di Inggris baru pulih 2011.
Selain itu, CEBR menilai jumlah orang kaya di Inggris berkurang banyak karena gaji dan bonus turun tajam. Belum lagi, investasi saham anjlok. "Penurunan jumlah orang kaya merefleksikan kehancuran pasar properti, jatuhnya harga saham dan penurunan bonus hingga 70 persen," kata Mc Williams.
Padahal, beban hidup keluarga di Inggris bertambah berat gara-gara krisis. PricewaterhouseCoopers LLP dalam risetnya beberapa waktu lalu menghitung, krisis telah membebani rumah tangga Inggris total 1,9 triliun poundsterling. Beban tersebut termasuk kenaikan harga barang, pengurangan gaji dan bonus, serta risiko hilangnya pekerjaan. (Kontan/Harris Hadinata/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang