JAKARTA, KOMPAS.com — Ketiga pasangan capres-cawapres telah mengajukan konsep ekonominya kepada publik. Namun, menurut pengamat politik Andrinof Chaniago, semua pasangan capres-cawapres tersebut hanya mengobral janji.
"Para pasangan capres dan cawapres masih memberikan janji-janji surga untuk memperbaiki ekonomi Indonesia. Namun, mereka tidak mendapatkan bagaimana cara mewujudkan janji itu," kata Andrinof dalam sebuah diskusi bertajuk "Menelaah Visi Ekonomi 3 Pasang Calon Presiden-Wakil Presiden RI 2009-2014", di Jakarta, Rabu (28/5).
Dosen Universitas Indonesia ini memberikan contoh, janji membuka lahan 7 juta hektar bukanlah hal mudah untuk dilakukan. "Memangnya tidak butuh banyak upaya, belum lagi pembebasan lahan juga memerlukan waktu yang lama," kata dia.
"Belum lagi janji untuk menurunkan harga BBM, janji itu hanya sebatas janji. Harga BBM itu fluktuatif, tidak bisa ditetapkan," tambah dia.
Janji manis lainnya yang disampaikan oleh salah satu pasangan capres-cawapres adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi sampai dua digit, menanggapi hal tersebut, Poltak Hotradero, pengamat ekonomi, merasa janji tersebut akan sulit untuk dilakukan.
"Dilihat pertumbuhan investasi baru 15-20 persen, kalau mau pertumbuhan double digit investasi harus digenjot 100 persen," kata Poltak.
Dan untuk mencapai investasi 100 persen, lanjut Poltak, adalah hal yang mustahil, Indonesia tidak mempunyai sumber dana. "Duitnya dari mana, kalau mau utang banyak juga tidak boleh, karena dalam undang-undang diatur utang tidak boleh lebih besar dari pertumbuhan ekonomi," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang