JK: "Lebih Cepat Lebih Baik" Bukan Kampanye

Kompas.com - 29/05/2009, 10:37 WIB

MAROS, KOMPAS.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga calon presiden mengemukakan, semboyan "lebih cepat lebih baik" bukan semata-mata semboyan untuk kampanyenya dalam Pemilu Presiden 2009.

"Lebih cepat lebih baik ini bukan masalah kampanye, tetapi soal sifat bangsa yang harus kita ubah menjadi lebih cepat," ujar Kalla saat sambutan Milad Ketujuh Nahdlatul Ulum di Maros, Sulawesi Selatan (29/5).

Untuk kerja-kerja pemerintah yang lambat, semangat itu dimaksudkan. Untuk memberi layanan kepada rakyat, pemerintah harus bekerja lebih cepat. Mengurus KTP dan surat tanah misalnya. "Pemerintah harus punya cara lebih cepat lebih baik. Ini masalah sifat bangsa untuk bisa bersaing sebaik-baiknya dengan bagsa lain," ujar Kalla.

Meskipun hadir sebagai Wapres, para ulama dan ribuan umat yang datang mendoakan Kalla agar menjadi Presiden. Oleh Sanusi Baco, pimpinan Nahdlatul Ulum, Kalla dinilai paling layak menjadi presiden. "Semua datang untuk mendoakan agar dalam Pilpes 2009, rakyat Indonesia merestui Kalla sebagai presiden RI," ujar Sanusi.

Dalam acara itu, semua yang hadir mengenakan pin JK-Wiranto di dada kanan dengan tulisan "lebih cepat lebih baik".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau